Kabid Persampahan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Muhayanah mengatakan, persentase sampah organik dan anorganik seimbang, yakni 50:50. Sampah organik mudah diolah. Sampah anorganik jauh lebih sulit.
‘’Di TPA kami melakukan pemilahan. Kami bedakan kedua jenis sampah itu,’’ katanya kemarin.
Sampah organik meliputi hasil pertanian, seperti sayur, buah, daun, dan bisa terurai cepat. Sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kaca, hingga styrofoam. Tentu, pengolahan sampah ini butuh pengolahan khusus.
Di tempat penimbunan akhir (TPA) sampah Banjarsari, sampah anorganik didominasi plastik. Sejauh ini sampah plastik diolah menjadi menjadi bahan bakar. Sebanyak 10 kilogram (kg) sampah plastik bisa menghasilkan 1 hingga 2 liter bahan bakar. Bahan bakar itu digunakan menghidupkan mesin pengolah itu. Sehingga, belum sampai digunakan kebutuhan lain. ‘’Alat itu sejauh ini hanya untuk edukasi masyarakat,’’ jelasnya.
Pengelolaan sampah plastik paling banyak dengan mendaur ulang. Cara itu tidak hanya dilakukan di TPA. Bisa oleh warga. DLH membentuk bank sampah di sejumlah desa pengolahan sampah plastik itu. ‘’Bisa juga sampah plastik dijadikan kerajinan dompet, tas, dan lainnya,’’ jelasnya.
Daur ulang sampah plastik dilakukan agar yang masuk ke TPA bisa ditekan. Kondisi TPA Banjarsari sudah hampir penuh. Daya tampungnya tersisa 66.561 meter kubik sampah.
Subkoordinator Pengendali Lingkungan Hidup DLH Mohammad Hanif menambahkan, sampah plastik menjadi ancaman. Karena itu diperlukan penanganan tepat. Salah satunya mengedukasi masyarakat. ‘’Jadi, kalau banyak masyarakat bisa memanfaatkan sampah, masalah sampah bisa dikurangi,’’ jelasnya. (zim/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto