Namun, konsep wedding party di desa lebih sederhana. Meski demikian tetap terlihat glamor. ‘’Di desa biasanya ditangani semua oleh perias,’’ kata Nurul Shifa, salah satu make up art (MUA) di Bojonegoro kemarin (24/6).
Masyarakat desa memang tidak begitu kenal dengan jasa usaha WO. Mereka lebih kenal dengan perias atau MUA. Sehingga, ketika menggelar pesta pernikahan, mereka pasrah berbagai kebutuhan pada MUA.
Konsep pesta pernikahan ditangani MUA lebih sederhana. Biasanya hanya terdiri dekorasi pelaminan, tenda, dan hiburan musik. Itu berbeda dengan pesta pernikahan ditangani jasa WO cenderung lebih lengkap. Jasa WO memiliki tim tersendiri.
‘’Kalau pakai jasa khusus WO biasanya juga ada konsumsi,’’ tuturnya.
Menurut Nurul, di pedesaan juga ada yang menggunakan jasa WO. Namun, tidak banyak. Hanya kalangan tertentu. Itu pun pernikahannya berlangsung di gedung. Sedangkan pernikahan di desa biasanya di halaman rumah. ‘’Jadi konsep acaranya sederhana tapi tetap terlihat glamor,’’ jelas wanita sudah 10 tahun menggeluti usaha MUA.
Terkait make-up, masyarakat di pedesaan biasanya lebih senang dengan model sederhana. Yakni, make-up yang soft tapi tetap glamor. Rata-rata mereka mengenakan jilbab. Sehingga, make up juga lebih simpel.
‘’Rata-rata kan pakai jilbab. Lebih simpel untuk make-up yang digunakan,’’ jelas wanita 35 tahun ini.
Diakui Nurul, make-up wedding paling sulit adalah adat Jawa. Ada berbagai riasan rumit. Itu semua tidak bisa dikerjakan satu atau dua jam.
Hal senada diungkapkan Rajif Ainur Rohman, MUA lainnya.
Menurutnya, tren menggunakan jasa WO dalam pernikahan merambah ke masyarakat desa. Namun, yang bergerak bisnis ini bukan WO khusus, tapi MUA melayani berbagai kebutuhan pesta pernikahan. ‘’Kami juga bisa melayani semuanya,’’ jelasnya.
Biasanya, lanjut Rafif, orang punya gawe tidak mau ribet. Sehingga, mereka memasrahkan semua pada perias. Biasanya itu lebih murah dibanding harus memesan sendiri. (zim/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto