Pada 2017 lahir ojol via WA lokal Bojonegoro bernama Wira-Wiri. Kemudian pada 2018 muncul Jasa Online Bersama (JOB). Selanjutnya, bermunculan ojol via WA secara sporadis. Bahkan, saat ini jumlah ojol via WA bisa lebih dari 20 ojol.
Saat ini juga mulai banyak driver ojol via WA yang beroperasi sendirian, tanpa ikut salah satu pengelola ojol. Salah satunya Fahrul Afif beroperasi sejak medio 2018 lalu. Ia mengaku lebih nyaman jalan sendiri, mengingat sudah punya banyak pelanggan. Jadi pelanggan bisa langsung jalur pribadi (japri) via WA tanpa melalui admin.
Omzetnya pun mencapai Rp 8 juta hingga Rp 9 juta per bulan. Perawatan motor ia lakukan sebulan sekali. “Setidaknya sehari bisa 20 sampai 25 trip,” kata pemuda asal Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.
Ia pun setiap hari mulai beroperasi pukul 06.00 hingga 21.00. Tarif ongkirnya Rp 7.000 per trip di seputaran kota. Fahrul mengatakan menjamurnya ojol via WA bisa dilihat di rumah makan yang tertempel stiker. “Lebih dari 20 kayaknya. Di kecamatan-kecamatan juga ada sekarang. Tapi kadang yang baru-baru itu banting harga ongkir sekitar Rp 5.000 per trip. Kalau harga ongkir standardnya Rp 7.000 per trip,” bebernya.
Uniknya, ojol via WA dilirik kaum perempuan. Setidaknya 20 persen driver JOB merupakan perempuan. Sebab, beberapa pelanggan perempuan lebih cocok dan nyaman kalau dilayani driver perempuan.
“Kadang pelanggan perempuan minta ditemani makan driver perempuan. Juga sering diminta jemput anak sekolah, lalu diminta menemani anaknya makan siang,” kata Bintang Destianti salah satu penanggung jawab ojek online via WA.
Kalau dari sisi perlindungan bagi driver, pihaknya telah menyisihkan uang setiap setoran sebagai dana darurat apabila terjadi kecelakaan atau perawatan motor. Pendapatan driver rerata Rp 3 juta per bulan. “Paling rendah Rp 2 juta per bulan. Kalau paling tinggi driver pernah dapat Rp 7 juta per bulan,” bebernya. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto