‘’Rata-rata untuk pernikahan,’’ ungkap Abdul Rouf, salah satu lelaki sebagai MUA kerap kali beraktivitas di Bojonegoro tersebut.
Rouf menekuni profesi ini sejak empat tahun silam. Sebelumnya dia merupakan fotografer acara pernikahan dan pre-wedding. Kerap kali bertemu perias saat memotret, dia memilih banting setir sebagai MUA. Alasannya karena lebih menjanjikan.
Rouf pun mulai ikut berbagai kursus. ‘’Saya ikut kursus dan pelatihan di berbagai kota,’’ ungkap pria asli Kecamatan Parengan, Tuban itu kemarin (25/3).
Tantangan menjalani profesi sebagai MUA cukup banyak. Paling berat ketika mendapatkan komplain pelanggan karena tidak sesuai. Namun, Rouf menjalaninya semua dengan enjoy. Menganggap itu bagian dari pekerjaan. ‘’Jadi, komplain tidak pernah menjadi beban berkepanjangan,’’ ujar pria 36 tahun itu.
Reni Faricha, perias lainnya mengatakan, bahwa ada banyak tantangan di profesi ini. Paling berat komplain dari pelanggan. Jika komplain tidak dihadapi dengan tenang bisa membuat mental runtuh. ‘’Sering kami merima komplain. Bahkan, banyak MUA gulung tikar karena tidak kuat dikomplain,’’ jelasnya.
Tugas utama profesi ini, lanjut Reni, mengubah tampilan wajah. Dari natural menjadi wajah cantik dan menawan. Hidung tidak mancung bisa diatur sedemikian rupa dengan make up agar terlihat mancung. ‘’Kami harus mengubah yang jelek menjadi cantik,’’ tutur wanita 32 tahun itu.
Reni menjelaskan, make up tidak selalu untuk wedding. Ada juga merias karakter dalam tokoh film, hingga kartun. ‘’Yang di Bojonegoro ini sebagian besar wedding. Karakter masih belum banyak,’’ jelasnya.
Make up paling sulit ketika busana Jawa. Karena itu, riasan pengantin busana Jawa harganya cukup tertinggi dibanding lainnya. Bisa mencapai jutaan rupiah. (zim/rij)