BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Baru genap 17 hari bulan ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro melaporkan dua pasien dari total 112 kasus demam berdarah dengue (DBD) meninggal dunia. Tentu harus menjadi atensi seluruh masyarakat lebih waspada dan selalu jaga kebersihan lingkungan.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes dr. Whenny Dyah Prajanti menerangkan, bahwa dua pasien DBD meninggal dunia itu berasal dari Kecamatan Kedungadem dan Kecamatan Trucuk. “Pertama anak usia sembilan tahun satu bulan asal Kecamatan Kedungadem. Kedua anak usia delapan tahun sepuluh bulan asal Kecamatan Trucuk,” jelasnya kemarin (17/1).
Ia menerangkan, kenaikan kasus DBD setiap tahunnya saat masuk musim hujan. “Kenaikannya kasus DBD mulai Oktober 2021 lalu,” imbuhnya. Adapun rincian kasus DBD selama 2021 ialah Januari 2 kasus; Februari 2 kasus; Maret 3 kasus; April 2 kasus; Mei 3 kasus; Juni 3 kasus; Juli 0 kasus; Agustus 2 kasus; September 8 kasus; Oktober 22 kasus; November 83 kasus; dan Desember 262 kasus.
“Totalnya 392 kasus DBD pada 2021. Dilaporkan lima pasien meninggal dunia, satu pasien pada Mei 2021. Dan empat pasien pada Desember 2021,” jelasnya.
Terkait perbandingan kasus DBD pada Januari 2021 dan Januari 2022, pihaknya belum bisa menyimpulnya penyebabnya. Karena pada Januari 2021 sedang ada lonjakan kasus Covid-19. “Kami belum bisa menilai penyebab sedikitnya kasus DBD pada 2021,” katanya.
Menurutnya, bisa karena pencatatan dari pihak fasilitas kesehatan (faskes) kurang baik, karena fokus penanganan Covid-19. Namun bisa juga masyarakat saat itu yang menderita takut pergi ke faskes. “Ada kemungkinan masyarakat ketika sakit, fokus penyembuhan sendiri, jadi takut pergi ke faskes,” ungkapnya.
Biasanya tren kasus DBD mulai turun memasuki Februari hingga Maret. Namun, dari sisi suhu dan cuaca tahun ini dibanding tahun lalu berbeda. “Curah hujan lebih tinggi dan suhu lebih dingin tahun ini, jadi mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aides aegypty,” bebernya. Karena itu, program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus semakin digiatkan di desa-desa.
Pesan bagi masyarakat ketika ada anggota keluarga demam, jangan panik. Tetapi, segala keluhan dan gejalanya harus benar-benar diperhatikan. Asupan makanan gizi seimbang dan minum air putih tidak boleh terlewatkan. Juga setiap rumah diharapkan punya termometer agar bisa memantau suhu badan setiap jamnya.
“Kalau demam tinggi 40 derajat Celsius selama tiga hari, segera dibawa ke faskes. Karena di atas tiga hari itu fase kritis, biasanya suhu tubuh turun, tapi esok harinya naik lagi. DBD kan tidak ada obatnya, DBD bisa sembuh sendiri kalau asupan makan dan minum cukup,” jelasnya.
Sementara itu, perihal fogging seringkali masyarakat salah paham. Fogging bukan merupakan pencegahan DBD, justru jalan terakhir. Pencegahan paling utama itu kebersihan lingkungan, misalnya membersihkan genangan-genangan air di lingkungan. “Biasanya genangan air di ban bekas atau bak-bak tidak terpakai di dekat rumah harus dibersihkan,” ucapnya.
Sehingga, dinkes tidak serta merta menyetujui permintaan masyarakat untuk fogging di wilayahnya. Karena dinkes tentu perlu menganalisa titik-titik memang endemik. Barulah fogging bisa dilaksanakan. “Saat ini wilayah endemik merata di seluruh kecamatan. Intinya fogging itu bersifat urgen, bukan kegiatan rutin. Karena kalau sering di-fogging, nyamuk dan virusnya bisa resisten,” tegasnya.
Editor : M. Yusuf Purwanto