PADA 12 November 2021 kemarin, Kabupaten Tuban genap berusia 728 tahun. Di usia yang matang tersebut, Kabupaten Tuban berkembang menjadi daerah maju. Namun demikian, roda pembangunan di Bumi Ronggolawe tak berhenti. Bupati Aditya Halindra Faridzky memiliki harapan besar untuk kemajuan Kabupaten Tuban. Seperti apa pembangunan Kabupaten Tuban ke depan. Berikut wawancara Jawa Pos Radar Tuban dengan bupati termuda di Tuban tersebut pada momen hari kelahiran kabupatennya.
HJT tahun ini mengusung tema Mbangun Deso Noto Khuto Tuban Sejahtera. Makna apa yang terkandung dalam tema tersebut?
Intinya, Pemkab Tuban pada 2021 hingga 2026 fokus meningkatkan ekonomi sampai tingkat rumah tangga. Targetnya bagaimana caranya masyarakat kita sejahtera, cukup ekonomi, cukup lahir dan batin. Intinya itu.
Semangat seperti apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat Tuban pada HJT ke-728 ini?
Semangat gotong royong, semangat berkolaborasi, semangat membangun, semangat meningkatkan sumber daya manusia, sehingga Kabupaten Tuban memiliki pondasi yang kuat untuk menghadapi setiap tantangan yang akan datang.
Peringatan sekarang ini merupakan tahun pertama Anda sebagai bupati Tuban. Apa yang tersirat dalam benak Anda di hari jadi ini?
Pada resepsi (HJT) tadi, saya merasa bangga, luar biasa dikelilingi oleh orang-orang hebat. Dan, saya yakin mereka dengan keilmuannya, dengan pengalamannya mampu bersinergi dengan saya dan mampu bersama-sama membangun Kabupaten Tuban yang lebih baik dan kompak untuk kepentingan mayarakat.
Sejak dilantik pada 20 Juni 2021 lalu, kurang lebih sudah lima bulan Anda memimpin Kabupaten Tuban. Apa capaian penting yang sudah Anda realisasikan?
Insya Allah di tahun 2021 ini, (perbaikan, Red) infrastruktur jalan menjadi prioritas.
Apa tantangan Anda pada lima bulan pertama ini?
Pada intinya semua permasalahan bisa kita selesaikan. Tergantung kemauan. Dalam lima bulan ini, saya menjalani komunikasi dengan semua (stakeholder, Red). Ketika semua berpedoman pada aturan, semua hal mampu kita selesaikan. Walau tantangan-tantangan luar biasa kita hadapi.
Ke depan, program prioritas apa yang ingin segera Anda realiasikan?
Program prioritasnya jelas mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pariwisata, kebudayaan, olahraga, lingkungan, ekonomi masyarakat, dan UMKM. Semua fokusnya di tingkat yang paling kecil. Karena kita tahu, kalau di tingkat paling kecil mampu dipersiapkan dengan baik, insya Allah pada tingkat yang lebih besar juga bisa berjalan dengan baik.
Tantangan yang sudah jelas di depan mata adalah pemulihan ekonomi. Namun, di sisi lain, pemerintah daerah juga masih dituntut mengendalikan laju Covid-19 yang masih belum usai. Strategi apa yang Anda siapkan agar keduanya (pemulihan ekonomi dan pengendalian laju Covid-19) bisa berjalan beriringan?
Strategi yang paling penting adalah komunikasi. Itulah yang paling penting. Kalau kita mampu mengkomunikasikan semua pada stakeholder di tingkat atas sampai bawah, semua tidak akan menjadi masalah yang sulit. Kuncinya, yang selalu saya sampaikan adalah kolaborasi, inovatif, dan kreatif. Insya Allah, jika itu bisa dijalankan, Kabupaten Tuban akan jauh lebih baik lagi.
Selain pemulihan ekonomi, PR lain pemerintah daerah yang tidak kunjung selesai adalah kemiskinan. Selama sepuluh tahun terakhir ini Kabupaten Tuban selalu berkutat pada ranking lima besar sebagai daerah termiskin di Jatim. Program pengentasan kemiskinan seperti apa yang ingin Anda jalankan, minimal supaya bisa lepas dari rangking lima besar?
Jadi gini, kalau ngomong kemiskinan, saya sejak awal sudah menyampaikan kepada semua OPD. Saya ingin memperbaiki data dulu. Dari awal saya sudah ngomong, karena saya yakin, insya Allah kalau semua data diperbaiki, menjadi data yang akurat dan valid. Insya Allah semua kebijakan penanganan kemiskinann akan tepat sasaran. Kuncinya semua ada di data. Kita lihat, insya Allah di akhir tahun ini semoga data sudah ter-update dengan baik. Ya, kalau masih ada kekurangan sedikit, akan terus kita perbaiki terus menerus setiap tahunnya.
Backbone perekonomian di Tuban adalah pertanian, kemudian UKM dan UMKM. Strategi seperti apa yang Anda siapkan untuk menggeliatkan perekonomian dari tiga sektor tersebut?
Kuncinya adalah dinilai tambah. Petani tidak lagi hanya menjual gabah basah, gabah kering. Tetapi dengan adanya packaging dengan kita bukakan pangsa pasar yang jauh lebih besar, petani ini akan merasa sejahtera. Jadi itu yang paling penting adalah nilai tambah. Itu yang akan fokus kita garap.
Dalam beberapa tahun terakhir ini potensi wisata di Tuban yang dikelola swasta juga berkembang pesat. Dan, itu sangat mendukung perekonomian masyarakat. Bagaimana dengan potensi wisata yang dikelola pemerintah daerah. Adakah strategi khusus untuk mengembangkan wisata yang sudah ada?
Contoh yang konkret yang akan kita lakukan di tahun ini dan 2022, misalnya adalah Musuem Kambang Putih. Kita akan coba gandeng bidang pendidikan, bagaimana nanti anak-anak SD, SMP, kita ajak untuk ke sana . Tujuannya untuk mengetahui sejarah Tuban. Secara tidak langsung wisata Kambang Putih ini juga akan meningkatkan pengetahuan anak-anak.
Di tengah pandemi ini, tantangan berat yang dialami hampir seluruh kepala daerah adalah soal target pertumbuhan ekonomi. Mungkin ada target khusus terkait pertumbuhan ekonomi?
Kita lihat nanti. Biarkan saya kerja dulu. Kalau target, pastinya kita pengen setinggi-tingginya. Tapi harus kita lihat dulu.
Di Hari Jadi Tuban kali ini, doa apa yang Anda panjatkan untuk Kabupaten Tuban?
Semoga Kabupaten Tuban terus maju, masyarakatnya selalu sehat, baik sehat fisik maupun jasmani. Semoga masyarakat Kabupaten Tuban juga semakin kompak dengan pemerintahan saya. Dan, semoga semua bisa berkolaborasi dengan baik untuk kepentingan kebersama yang lebih baik.