BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Lahan tadah hujan yang tercatat dalam Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) berjumlah 48.370 hektare. Memasuki musim penghujan, petani dengan lahan non-irigasi (tadah hujan) mulai menggarap lahan pertanian. Rerata ditanami padi setelah sebelumnya ditanami palawija.
Kabid Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan DKPP Bojonegoro Imam Nur Hamid Arifin mengatakan, data lahan pertanian dengan kategori tadah hujan berjumlah 43.370 hektare, tersebar di semua kecamatan.
“Mulai Kecamatan Margomulyo sampai Kecamatan Baureno, rerata sedikit banyak ada lahan tadah hujannya,” ujarnya kemarin (1/11).
Menurut Imam, musim hujan menjadi harapan baru bagi petani yang tergantung air hujan. Sebelum musim hujan petani menanam umbi dan kacang-kacangan serta tanaman yang tidak membutuh banyak air. “Seperti jagung di daerah Temayang, dan sekitarnya,” imbuhnya
Camat Ngraho Masirin menambahkan, lahan tadah hujan di kecamatannya tersebar di wilayah timur, sedangkan di wilayah barat rerata sudah menggunakan sistem irigasi.
Tahun ini di Kecamatan Ngraho ada 1626,88 hektare lahan tadah hujan. “Biasanya sebelum padi ditanami umbi-umbian dan bawang merah,” katanya.
Masirin menerangkan, setelah memasuki musim hujan para petani mengubah jenis tanaman menjadi pertanian padi, sebab air mudah dicari. Karena hanya air hujan yang menjadi andalan untuk memaksimalkan pertumbuhan padi. “Tentunya, hujan menjadi harapan para petani yang sulit jangkauan dengan air,” ujar mantan Kabag Humas Pemkab Bojonegoro itu.
Memasuki musim tanam ini petani sudah mendapatkan jatah pupuknya diambil akhir Oktober. Petani menyetok pupuk terlebih dahulu, untuk memastikan tercukupinya pertumbuhan padi yang ditanam. (luk)