Sebagian orang Madagaskar mengakui nenek moyang mereka berasal dari Nusantara. Dua di antaranya dari Jawa dan Kalimantan. Berikut cerita yang disampaikan Rakotoarimanana Zy Misa Harivelo, warga Madagaskar saat berkunjung ke Tuban.
Sebenarnya banyak fakta sejarah yang mengungkap hubungan antara Madagaskar dan Indonesia. Rakotoarimanana Zy Misa Harivelo, warga Antananarivo, salah satu kota di Madagaskar mengatakan, saat kali pertama berkunjung ke Indonesia dua tahun silam, dia tak merasakan shock culture (kejutan budaya). Sebab, sebagian besar kebiasaan orang Madagaskar nyaris sama dengan orang Indonesia.
Seperti makanan pokoknya, nasi dan jagung. Sehari makan tiga kali. Juga, selalu ramah dengan orang lain dan suka gotong royong. ‘’Dari fisik dan kebiasaan kami (orang Madagaskar) sama dengan orang sini,’’ ungkap dia kepada Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (10/3).
Kedatangan Misa, panggilan akrabnya, ke Bumi Wali untuk berwisata. Dari segi fisik, ungkapnya, orang suku Malagasy (salah satu suku terbesar di Madagaskar) berkulit sawo matang. Postur tubuhnya sedang dan cenderung lebih kecil bagi wanita. Rambut hitam lurus dan mata lebar. Persis seperti orang Jawa pada umumnya.
Seperti halnya Misa. Jika dia tak bercerita, siapa pun pasti menyangka kalau dirinya adalah orang Madagaskar. ‘’Saat di Surabaya, banyak yang mengira saya orang asli sini,’’ katanya. Misa adalah mahasiswi kelas Internasional di pascasarjana disaster management di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Dia mendapat beasiswa Kemitraan Negara Berkembang dari pemerintah Indonesia untuk negara sahabat. Lulusan Antananarivo University of Madagasccar ini diwajibkan belajar di Indonesia untuk diterapkan di negaranya. Satu-satunya perbedaan yang mencolok antara orang Madagaskar dan Indonesia hanyalah kebiasaan saat makan.
Orang Madagaskar secara turun-temurun makan menggunakan tangan kiri. Bukan karena kidal. Tapi, karena kebiasaan yang sudah diajarkan leluhurnya. Perbedaan lain adalah suhu. Suhu rata-rata di Madagaskar berkisar 15 – 25 derajat Celcius. Kurang lebih sama seperti di Kota Batu.
Dari segi bahasa? Dijelaskan dara kelahiran 29 Januari 1995 ini, bahasa nasional Madagaskar adalah Malagasy dan bahasa Prancis. Misa menjelaskan, beberapa kosa kata antara bahasa Indonesia, Jawa, dan Kalimantan sama dengan bahasa Malagasy. Seperti batu, masak, makanan, salam, mati, bulan, mentah, dan masih banyak lainnya.
‘’Keseharian menggunakan bahasa Malagasy, untuk urusan administratif menggunakan bahasa Prancis,’’ jelasnya. Misa mengatakan, dalam pelajaran sejarah siswa Madagaskar dijelaskan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Jawa. Sebagian ahli sejarah mereka mengatakan nenek moyang mereka dari Kerajaan Majapahit saat masih dipimpin Hayam Wuruk dengan patih Gadjah Mada.
Sejak dulu, Nusantara dan Madagaskar memiliki hubungan perdagangan yang baik. Dia juga menyampaikan, salah satu kain yang populer di Madagaskar adalah kain tenun. Dari segi bentuk dan pelafalannya sama dengan kain tenun di Kalimantan. Sejumlah toko oleh-oleh di negeri Afrika itu juga menjual pernak-pernik kain tenun mirip yang dijual di Indonesia. ‘’Antara Indonesia dan Madagaskar ada hubungan perdagangan rempah hingga ada akulturasi budaya,’’ katanya.
Editor : Indra Gunawan