Radar Tuban – Bencana hidrometerologi di Tuban belum berakhir. Banjir masih mengancam sejumlah wilayah. Hujan lebat yang turun hingga Minggu (24/1) dini hari mengakibatkan sejumlah desa terendam.
Salah satu kawasan terparah berada di Kecamatan Plumpang. Sungai meluap dan tanggul avur yang jebol memicu empat desa di kecamatan setempat terendam. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, sekitar 420 hektare (ha) sawah hingga kemarin (25/1) masih terendam. Rinciannya, di Desa Klotok 200 ha, Desa Kedungsoko (70 ha), Desa Magersari (30 ha), dan Desa Penidon (120 ha).
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala BPBD Tuban Yudi Irwanto menjelaskan, tercatat 570 kepala keluarga (KK) yang terdampak. Mereka tinggal di Dusun Mayang (35 KK), Dusun Pacar (20 KK), Dusun Juwet (480 KK), dan Dusun Penidon (35 KK). Keempatnya di Desa Penidon.
‘’Tanggul avur di Klotok jebol dan sungai di Magersari meluap, sehingga banyak yang terendam,’’ ungkap dia. Berdasarkan penuturan warga kepada petugas BPBD Tuban, banjir kali ini adalah yang terparah sejak sepuluh tahun terakhir.
Biasanya, banjir pada empat desa tersebut disebabkan oleh luapan Bengawan Solo. Tahun ini, debit air Bengawan Solo terkendali dan tak mengakibatkan luapan. ‘’Bengawan Solo aman, banjir justru karena luapan sungai dan kiriman dari daerah daratan tinggi,’’ jelas Yudi.
Mantan kabag umum setda setempat ini berkali-kali mengingatkan penyebab banjir merupakan tanda-tanda kerusakan alam. Hal ini diperparah dengan bencana hidrometeorologi karena sisa-sisa dampak La Nina. Apalagi, saat ini memasuki puncak musim penghujan yang memicu debit air semakin tinggi.
‘’Ini jadi peringatan kita bersama untuk menjaga hutan,’’ imbau dia.
Selain sawah dan pemukiman, kata Yudi, jalan poros desa di Ma gersari dan Klotok sempat terendam hingga 100 centimeter (cm). Setelah hujan reda, ketinggian air turun hingga 30 cm. Karena bukan dipicu dari luapan Bengawan Solo, air cepat surut. Namun, risikonya banjir datang lebih cepat tanpa bisa diprediksi sebelumnya. ‘’Kalau hujan lokal deras langsung terendam,’’ tegas dia.
Selain di Kecamatan Plumpang, Yudi membeberkan kondisi yang sama di Desa Karanglo, Kecamatan Kerek. Waduk Singkil di desa setempat tak mampu me nampung air, sehingga meluber ke pemukiman warga sekitar. Dampaknya, jalan poros desa lumpuh total. Seluruh kendaraan tak bisa melintas karena ketinggian air di sepanjang jalan desa mencapai 60 cm.
Meski demikian, seluruh pemukiman warga masih aman. Karena kondisi jalan yang lebih rendah dari pemukiman mengakibatkan surutnya air cukup lama. ‘’Sempat ada dua pengemudi motor terseret arus, tapi bisa diselamatkan warga,’’ ungkapnya.
Editor : Indra Gunawan