Radar Tuban – Ancaman bahaya hutan gundul mulai nyata. Sejumlah desa yang tak diguyur hujan, tergenang. Pemicunya air kiriman dari daerah berdataran lebih tinggi yang tak mampu menampung air hujan.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, sejumlah desa yang kemarin (5/1) tergenang banjir selama beberapa jam tersebut berada di Desa Sumberagung, Desa Kesamben, dan Desa Ngrayung, ketiganya di Kecamatan Plumpang. Selanjutnya, Desa/Kecamatan Grabagan dan Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban.
Tak semua desa yang tergenang bah tersebut disebabkan hujan yang deras. Beberapa desa kebanjiran karena air kiriman. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Yudi Irwanto menjelaskan, bah yang menggenangi sejumlah desa tersebut disebabkan kiriman air dari daerah yang lebih tinggi. Air tersebut menggenang sekitar 1—3 jam.
‘’Jika di dataran tinggi Desa Ngino (Kecamatan Semanding) hujan, biasanya daerah yang lebih rendah ikut tergenang,’’ jelas dia. Seperti halnya di Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban kemarin siang. Saat itu, wilayah di selatan kota tersebut sama sekali tak diguyur hujan. Namun, tiba-tiba sekitar pukul 15.15, air dari sungai Dusun Bongkol meluap hingga meluber ke jalan dan pemukiman warga. Ketinggian air di desa setempat mencapai 50 sentimeter (cm).
‘’Air hujan yang turun di daerah dataran tinggi tak bisa tertampung sehingga turun,’’ terang dia. Mantan kabag umum setda ini mengatakan, genangan air pada tiga desa di Kecamatan Plumpang hanya bertahan satu jam. Hujan yang turun mulai pukul 12.00 siang itu memicu sungai meluap sekitar pukul 13.00 dan baru surut sekitar satu jam kemudian.
Yudi menjelaskan, banjir di Kecamatan Plumpang bersumber dari kiriman air dari Desa Sumberagung, kecamatan setempat. ‘’Kemungkinan karena kondisi hutan di dataran tinggi gundul, sehingga tak mampu menampung air,’’ tegasnya.
Editor : Indra Gunawan