Nama Riyadi dalam kancah perpolitikan di Tuban terbilang baru. Sosok pengusaha beras asal Desa Maibit, Kecamatan Rengel ini lebih dikenal sebagai pengusaha beras. Setelah unggul berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, Selasa (15/12), pendamping cabup Aditya Halindra Faridzky ini tinggal selangkah menuju kursi wabup Tuban.
ZAKKI TAMAMI, Tuban, Radar Tuban
Tak pernah sedikit pun terbesit dalam benak Riyadi untuk menjadi wakil bupati Tuban. Baginya, impian itu terlalu melambung untuk anak seorang petani. Di kampung halamannya, Desa Maibit, Kecamatan Rengel, orang tua Riyadi hidup dengan keterbatasan. ‘’Mau bayar seragam saja dibiayai orang lain,’’ ungkap dia menceritakan kondisi tersulit sewaktu dirinya duduk di bangku SMPN 1 Rengel.
Setelah lulus SMP, Riyadi muda melanjutkan pendidikan di SMT Pertanian Tuban. Lembaga pendidikan kejuruan tersebut sederajat SMA. Ketika itu, orang tuanya memang bisa membayar uang SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) Rp 7 ribu per bulan, namun untuk biaya tinggal di Tuban, dia terpaksa menumpang orang lain.
Setiap bulan, Riyadi memberikan beras 10 kilogram (kg) beras kepada sebuah keluarga di kawasan Makam Agung, Tuban yang ditumpangi. Konsekuensinya, dia membantu pekerjaan rumah tangga tersebut. Mulai mencuci, mengepel, dan momong.
Selama bermukim di Tuban, Riyadi pulang ke Rengel sebulan sekali. Dari kampung halamannya ke Tuban, dia pulang pergi naik sepeda ontel. ‘’Kalau hujan ya nunut kendaraan L300 (pikap),’’ ujar a’wan mustasyar MWC NU Rengel periode 2013-2018 itu.
Lulus dari SMT, Riyadi bekerja pada seorang pengusaha penggilingan beras keturunan Tionghoa di Rengel. Sembari bekerja, dia belajar ilmu manajemen dagang. Mulai pembibitan, permesinan, pemasaran beras, dan lainnya.
Gajinya sebagai pekerja hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Memasuki tahun kedua bekerja, tepatnya pada 1992, mantan CEO Puma Football Academy ini melepas masa lajangnya. Dia mempersunting wanita pujaannya bernama To’ifah. Kehidupan baru pun dimulai dengan penuh perjuangan.
Saking beratnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, Riyadi mengaku pernah kesulitan untuk membeli sampo seharga Rp 50. Anak pertama Riyadi-To’ifah lahir pada 1993. Setelah memiliki momongan, pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sunan Bonang Tuban ini bertekad membuka usaha berjualan beras sendiri pada 1994.
Dia mendirikan UD Sumber Jaya. Riyadi cukup yakin mampu dengan pengalaman dan pengetahuannya selama bekerja pada juragan beras. Modal memulai usaha tersebut tak banyak. Itu pun didapat dari uang buwuhan pernikahan dan menjual perhiasan dari orang tuanya.
Mengandalkan relasi yang pernah dijalin sewaktu bekerja pada orang lain, usahanya mulai jalan. Untuk menambah modal, Riyadi mendapat pinjaman dari sejumlah temannya yang memercayainya.
Sampai sekarang, usaha berjualan beras tersebut ditekuninya. Bendahara KBIH NU Rengel ini mengaku tak menyangka bakal dipinang untuk menjadi pendamping Aditya Halindra Faridzky.
Diceritakan Riyadi, setelah Idul Fitri 2020, orang kepercayaan Haeny Relawati Rini Widyastuti datang ke rumahnya untuk menawarinya maju pada pilkada 2020. Mendampingi putranya, Lindra, panggilan akrab Aditya Halindra Faridzky.
Tak hanya Riyadi yang tak percaya dengan tawaran tersebut. Istrinya pun tak menyangka seorang pedagang beras seperti dirinya bakal mendapat tawaran mengikuti kontestasi pilkada.
Ketika itu, istri Riyadi sempat menyarankan suaminya untuk tetap fokus pada pekerjaannya. ‘’Wong bakul beras kok tuk bupati (Hanya seorang pedagang beras kok sampai persoalan bupati, Red),’’ menirukan ucapan istrinya saat itu.
Karena pinangan tersebut terlalu istimewa, Riyadi meminta waktu untuk memberikan jawaban. Setelah melalui pertimbangan, mantan kepala Desa Maibit, Kecamatan Rengel itu memutuskan menerima lamaran tersebut.
Jawaban tersebut disampaikan pada pekan ketiga pinangan diterima. Setelah dia menyatakan kesiapannya, komunikasi pun dibangun. Setelah melalui tahapan yang berliku, Riyadi mendapat rekomendasi dari Partai Golkar, Partai Demokrat, dan PKS untuk mendampingi Lindra maju pada pilkada.
Kini, calon wabup ini tinggal selangkah menuju Pendapa Krido Manunggal Tuban setelah berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, Selasa (15/12), Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Tuban menetapkan, pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Aditiya Halindra Farizky-Riyadi (DaDi) meraih suara terbanyak pada Pilkada Tuban 2020.
Jumlah suaranya 423.236 suara (60,01 persen). Sementara dua rivalnya, pasangan nomor urut 01 Khozanah Hidayati-M. Anwar meraih suara 170.955 (24,24 persen) dan paslon nomor urut 03 Seti ajit-RM Armaya Mangkunegara 110.998 suara (15,74 persen).
Editor : Indra Gunawan