Tak hanya unggul dalam peningkatan populasi ternak dan produksi garam rakyat, Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Tuban juga terdepan dalam peningkatan produksi perikanan. Berikut lanjutan tulisan terkait perikanan.
PERIKANAN TANGKAP
Jumlah produksi perikanan tangkap di Tuban selama tiga tahun terakhir bisa diandalkan. Angkanya selalu melebihi target. Pada 2019, total produksinya 18.148,00 ton. Capaian tersebut di atas target yang dipatok DPP sebanyak 15.616,51 ton. Begitu juga tahun sebelumnya (2018). Tercapai 16.145,06 ton, melampaui target yang ditetapkan 14.415 ton. Sementara pada 2017, dari target 13.214 ton, tercapai 14.415,66 ton.
Peningkatan tersebut tak lepas dari peran DPP dalam memberdayaan nelayan melalui pemberian bantuan kapal dan alat tangkap yang ramah lingkungan. Upaya lain adalah memberikan perlindungan asuransi kepada nelayan. ''Muaranya pada peningkatan kesejahteraan nelayan,'' tegas Kepala DPP Tuban Dr. Ir. M. Amenan, MT.
Terkait pemberian bantuan kapal, Amenan merinci, tiga tahun terakhir Pemkab Tuban melalui institusinya memberikan bantuan kapal berukuran kurang dari 3 gross tone (GT) lengkap dengan mesin dan alat tangkapnya. Bantuan diawali pada 2017 sebanyak 64 unit. Melalui paket bantuan kapal, terang dia, diharapkan nelayan miskin yang sebelumnya berstatus sebagai buruh nelayan, berubah menjadi juragan nelayan dengan pendapatan yang lebih baik.
Selain bantuan kapal dan alat tangkap ramah lingkungan, selama lima tahun ini melalui kerja sama dengan Kementerian ESDM tiap tahun selalu memberikan bantuan konversi BBM ke BBG kepada nelayan. Total bantuannya 1.440 unit. Mulai 2016 sebanyak 330 unit, 2017 (566 unit), 2018 (200 unit), 2019 (227 unit), dan 2020 (117 unit). Adapun manfaat dari konversi BBM ke BBG adalah harga BBG lebih murah dan perawatannya lebih mudah. BBG aman dalam penggunaan dan emisinya lebih rendah. Manfaat lain, membantu perekonomian nelayan kecil.
DPP juga berusaha mengendalikan harga ikan yang baik melalui lelang di tempat pelelangan ikan (TPI). Di sepanjang pesisir pantura Tuban, terdapat lima TPI. Yakni, TPI Bulu di Kecamatan Bancar; TPI Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo; TPI Karangsari, Kecamatan Tuban; TPI Palang, Kecamatan Palang; dan TPI Karangagung, Kecamatan Palang.
Selain meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui perbaikan harga ikan, keberadaan TPI juga menghasilkan pendapatan asli daerah dari retribusi. Pemasukan dari retribusi TPI menembus Rp 1 miliar per tahun.
PERIKANAN BUDIDAYA
Perikanan budidaya juga memberikan kontribusi yang cukup besar. Setiap tahun, realisasi jumlah produksinya melampaui target. Pada 2017, dari target DPP 35.092,32 ton, tercapai 35.443,24 ton. Tahun berikutnya (2018), dari target yang dinaikkan menjadi 37.512,48 ton, mampu terealisasi 37.532,30. Hanya pada 2019, yang capaian jumlah produksinya menurun menjadi 39.390,15 dari target 39.932,64 ton.
Untuk meningkatkan jumlah produksi, organisasi perangkat daerah (OPD) yang dinakhodai Amenan ini selalu melahirkan berbagai inovasi program dan kegiatan. Di antaranya, keramba jaring apung (KJA) laut, sistem bioflok, kolam terpal, serta integrasi ikan, ternak, dan tanaman.
KJA laut termasuk program pioner. Program yang memberikan solusi terkait problem berkurangnya hasil tangkapan nelayan akibat penurunan populasi ikan laut tersebut lokasinya di perairan laut Kecamatan Bancar.
Amenan menerangkan, program KJA merupakan budidaya ikan salah satunya jenis kerapu di atas jaring yang mengapung di laut. Kegiatan tersebut, terang dia, merupakan kegiatan sampingan yang penekanannya pada optimalisasi nilai tambah komoditas maupun proses produksi.
Doktor jebolan Universitas Brawijaya Malang ini optimistis program tersebut mampu mengembangkan kawasan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. Dan, tentu saja mengentas kemiskinan di kantong-kantong perkampungan nelayan.
Amenan memaparkan, kegiatan ini dimulai awal Desember 2017. Jumlah sarana budidaya KJA yang diterima masing-masing kelompok sebanyak 2 unit. Rinciannya, 8 lubang budidaya berukuran 3x3x2,5 meter lengkap dengan jangkar dan jaringnya. Selain sarana, masing-masing kelompok diberikan benih 3.500 ekor ikan kerapu plus sebagian pakannya. Pembinaan teknis kelompok ini dari DPP dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo.
Selain ikan-ikan yang memasyarakat seperti lele, budidaya sistem bioflok mulai 2019 dikembangkan pada komoditas yang bernilai tinggi seperti nila dan udang.
ASURANSI NELAYAN
DPP juga melindungi nelayan yang mengoperasikan kapal berukuran kurang dari 10 GT. Tujuannya, bila nelayan mengalami kecelakaan, maka yang bersangkutan mendapat santunan. Besarnya Rp 200 juta untuk yang meninggal akibat kecelakaan di laut dan Rp 160 juta yang meninggal kecelakaan di darat atau mati alami. Jumlah penerima program bantuan premi asuransi nelayan 7.461 orang. Rinciannya, 451 nelayan (2016), 2.310 nelayan (2017), 532 nelayan (2018), dan 2.668 (2019), dan tahun ini 1.500 nelayan.
Bantuan premi asuransi tersebut hanya berlaku setahun. ''Diharapkan, pada tahun berikutnya nelayan yang bersangkutan melanjutkan dengan membayar premi sendiri,'' tegas pejabat yang menyelesaikan S-2 manajemen teknis kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu.
Upaya penambahan modal usaha nelayan juga dilaksanakan melalui kegiatan sertifikasi hak atas tanah nelayan (Sehat Nelayan) dengan jumlah 1.547 sertifikat lahan. Dimulai 2011 dengan jumlah (89 sertifikat lahan), 2012 (235 sertifikat lahan), 2013 (200 sertifikat lahan), 2014 (200 sertifikat lahan), 2015 (200 sertifikat lahan), 2016 (150 sertifikat lahan), 2017 (150 sertifikat lahan), 2018 (200 sertifikat lahan), dan 2020 (150 sertifikat lahan).
KAMPANYE GEMARIKAN DAN GEMARAMPAI
Sebagai upaya untuk meningkatkan konsumsi ikan, daging, telur dan susu sebagai salah sumber protein di Kabupaten Tuban, DPP memiliki program peningkatan konsumsi ikan yang dilaksanakan setiap tahun melalui kegiatan Kampanye Gemarikan (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan) dan Gemarampai (Gerakan Makan Telur, daging dan minum susu bagi putra-putri Indonesia). Tahun ini, kegiatan Kampanye Gemarikan dilaksanakan juga dilaksanakan sebagai upaya pencegahan stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.
Bupati Tuban Fathul Huda menekankan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi terutama bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan Gemarikan dan Gerakan Makan Telur Minum Susu Putra Putri Indonesia (Gemarampai) tahun 2018 dan Pencanangan Kawasan Budidaya Lele Terintegrasi di lapangan Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak pada 3 Juli 2019.
Dikatakan bupati, konsumsi telur, ikan, dan susu di Tuban tergolong rendah hanya sebesar 5,56 kilogram (kg) per kapita per tahun. Angka tersebut jauh di bawah tingkat konsumsi nasional maupun Jawa Timur. Konsumsi telur nasional sebesar 23,275 kg per kapita per tahun dan Jatim 8,15 kg per kapita per tahun.
Sementara tingkat konsumsi ikan nasional mencapai 47,12 kg per kapita per tahun dan Tuban 35,40 kg per kapita per tahun. Untuk susu, tingkat nasional 8,708 kg per kapita per tahun, Jatim 10,54 per kapita per tahun, dan Tuban 0,054 kg per kapita per tahun.
Di Tuban, konsumsi tertingginya adalah daging. Angkanya mencapai 13,991 kg per kapita per tahun. Bandingkan dengan konsumsi daging nasional 6,414 kg per kapita per tahun dan Jatim 9,67 kg per kapita per tahun. ''Karena itu perlu adanya inovasi dan kreasi terhadap pengolahan ikan, telur, dan susu sehingga tercipta menu-menu baru yang dapat meningkatkan selera masyarakat untuk mengonsumsinya,'' terangnya.
Bupati juga mengimbau kepada masyarakat untuk mengonsumsi susu, termasuk kalangan dewasa. Dikatakan dia, peningkatan gizi harus dibarengi dengan peningkatan ekonomi rakyat.
Untuk menanggulangi dampak Covid-19, DPP melalui kegiatan Gemarikan juga melakukan pemberian bantuan paket produk olahan sebanyak 280 paket kepada balita stunting yang terdampak covid di Kecamatan Bangilan, Kenduruan, Parengan, dan Jatirogo. Penanggulangan Covid-19 pada bidang peternakan dilakukan melalui kegiatan pengembangan usaha peternakan dengan pemberian paket bantuan ayam petelor dan kandang kepada sembilan kelompok peternak yang terdampak Covid-19 di Kecamatan Soko, Kenduruan, Tambakboyo, Palang, dan Merakurak. Tujuan pemberian bantuan adalah untuk pemenuhan gizi keluarga dan tambahan penghasilan bagi keluarga.
Selain bantuan berupa barang untuk mengantisipasi mandeg-nya usaha para pengolah dan pemasar (poklahsar) akibat dampak Covid-19, melalui kegiatan pemberdayaan kelompok pengolahan dan pemasaran produk perikanan yang berstandar mutu baik juga diberikan bantuan modal untuk kelangsungan usaha mereka. Penerimanya, 37 poklahsar di Kecamatan Tuban, Soko, Semanding, Palang, Jenu, Tambakboyo, dan Bancar.
Editor : Indra Gunawan