Dilema Perajin Batu Bata, Pengeringan Cepat Tapi Air Sulit

Achmad Syaeroyzi • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 08:10 WIB
TERPENGARUH CUACA: Perajin batu bata merah di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen mampu memproduksi 13 ribu batu bata sekali pembakaran. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)
TERPENGARUH CUACA: Perajin batu bata merah di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen mampu memproduksi 13 ribu batu bata sekali pembakaran. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kemarau panjang membuat perajin batu bata merah di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, kesulitan mendapatkan air. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, mereka harus mengambil air dari sumur sendang yang berjarak hampir dua kilometer.

Sarmidi, salah seorang perajin mengatakan, air tersebut digunakan untuk mengolah tanah sebelum dicetak. Dia bersama istrinya harus bolak-balik mengambil air menggunakan sepeda motor dengan membawa tiga jeriken.

‘’Kalau musim kemarau memang air sulit, tapi untuk pengeringan batu bata lebih cepat,” ujarnya.

Baca Juga: Kodim 0721 Bangun Tiga Sumur untuk Atasi Kekeringan di Kabupaten Blora

Kemarau membuat tanah semakin keras, sehingga membutuhkan cukup air agar bisa diolah dan dicetak. Meski begitu, Sarmidi masih mampu mencetak sekitar 700 batu bata per hari.

Di tengah kesulitan tersebut, panas matahari justru menjadi keuntungan. Batu bata yang telah dicetak lebih cepat kering dibandingkan saat musim hujan.

‘’Kalau panas seperti ini cepat kering. Jadi setelah dicetak, tidak terlalu lama menunggu untuk proses berikutnya,” katanya.

Dalam sekali pembakaran, Sarmidi mampu menghasilkan sekitar 13 ribu batu bata merah. Hasil produksinya biasanya langsung diambil toko bangunan maupun pengepul.

Bagi perajin, kemarau menjadi dua sisi. Air sulit untuk produksi, tetapi panas matahari membantu mempercepat pengeringan sehingga aktivitas produksi tetap berjalan. (ozi/ind)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
perajin batu bata Kemarau Panjang Kecamatan Ngawen Kemarau Air