Siswa Keracunan MBG Bertambah, SPPG Tutup Blora Diberhentikan 20 Hari

Rahul Oscarra Duta • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 20:11 WIB
KELUHKAN MBG: Siswa mengeluhkan mual, sakit perut, diare hingga pusing, setelah mengonsumsi makanan dari SPPG Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan Kamis (1/10). (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BOJONEGORO)
KELUHKAN MBG: Siswa mengeluhkan mual, sakit perut, diare hingga pusing, setelah mengonsumsi makanan dari SPPG Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan Kamis (1/10). (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)  Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, kembali menjadi sorotan.

Jumlah siswa yang mengalami keluhan setelah menyantap makanan tersebut kini bertambah menjadi 24 anak.

Puluhan siswa itu berasal dari tiga sekolah penerima MBG yang mendapat kiriman makanan dari SPPG Desa Tutup pada Kamis (1/10). Mereka mengeluhkan sejumlah gejala, mulai mual, sakit perut, diare hingga pusing.

Kepala SDN 3 Tutup Sri Wulandari mengungkapkan, di sekolahnya terdapat empat siswa yang mengalami keluhan. Salah satu siswa bahkan sempat muntah setelah mengonsumsi makanan MBG.

Keluhan lainnya muncul ketika jam pelajaran selesai. Sejumlah siswa mengaku sakit perut sebelum akhirnya dipulangkan oleh pihak sekolah.

Baca Juga: Polres dan Dinkes Lakukan Penyelidikan, Dugaan Keracunan MBG, Belasan Siswa SDN 1 Tutup Sakit Perut

’’Ada anak yang bilang perutnya sakit. Karena memang sudah waktunya pulang, akhirnya saya pulangkan dan wali kelas diminta menghubungi orang tua agar anak dipantau di rumah,’’ katanya kepada kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sri menambahkan, sekolah juga meminta orang tua segera berkoordinasi dengan bidan desa jika kondisi anak memburuk atau muncul gejala lanjutan.

Pendataan terhadap siswa masih dilakukan bersama petugas Puskesmas Tunjungan. Karena itu, jumlah empat siswa tersebut masih memungkinkan berubah.

Begitu mengetahui adanya siswa yang mengalami keluhan, sekolah memilih menghentikan aktivitas makan untuk mencegah kejadian serupa meluas.

’’Ini pertama kali terjadi di sekolah kami. Setelah ada kejadian itu, kegiatan makan langsung saya hentikan,’’ jelasnya.

Sri berharap insiden tersebut menjadi evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG. Pihak sekolah juga berencana meminta masukan wali murid terkait keberlanjutan program tersebut.

Di sisi lain, Ketua Satgas MBG Kabupaten Blora Sri Setyorini membenarkan adanya tambahan laporan siswa yang mengalami keluhan. Berdasarkan pendataan sementara, total terdapat 24 siswa dari tiga sekolah.

Rinciannya, 13 siswa SDN 1 Tutup, empat siswa SDN 3 Tutup, dan tujuh siswa SMK Bakti Husada.

’’Keluhannya berupa mual, sakit perut, diare dan pusing. Semua sudah mendapatkan penanganan dari Puskesmas Tunjungan,’’ kata Sri Setyorini yang akrab disapa Bude Rini.

Baca Juga: Sebabkan Keracunan Ratusan Siswa, SPPG Sukorejo 2 Ditutup Permanen

Dia memastikan tidak ada siswa yang sampai harus menjalani perawatan inap. Penanganan terhadap seluruh siswa dilakukan secara rawat jalan.

Sebagai tindak lanjut, Satgas MBG Blora telah melaporkan kejadian tersebut kepada Koordinator Wilayah SPPG. Evaluasi kemudian dilakukan terhadap operasional SPPG Tutup.

Hasilnya, operasional SPPG Tutup dihentikan sementara selama 20 hari. Penghentian tersebut dilakukan sembari menunggu proses evaluasi dan penelusuran lebih lanjut terhadap pelaksanaan distribusi MBG.

’’Tim langsung turun setelah menerima laporan. Untuk sementara SPPG Tutup dihentikan 20 hari sambil dilakukan evaluasi,’’ tandas Bude Rini. (hul/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Desa Tutup SDN 3 Tutup SPPG Mbg jawa pos radar bojonegoro