RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sebanyak 26 aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Blora telah mengajukan perceraian sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, pengajuan didominasi ASN dari kalangan guru, khususnya pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
Subkoordinator Pembinaan Pegawai dan Peraturan Perundang-undangan BKPSDM Blora Era Aromatica Kusumadewi mengatakan, hingga bulan ini sudah ada 26 permohonan izin cerai. Sementara pada tahun sebelumnya, jumlah perceraian ASN mencapai 35 kasus.
“Biasanya peningkatan terjadi pada Desember,” ujarnya.
Menurut Era, proses pengajuan perceraian bagi ASN harus melalui sejumlah tahapan. Misalnya bagi seorang guru, persoalan rumah tangga terlebih dahulu dimediasi di sekolah, kemudian Dinas Pendidikan. Jika belum menemukan jalan keluar, proses dilanjutkan melalui Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4).
"Selanjutnya, pengajuan diteruskan ke BKPSDM untuk diproses sesuai ketentuan hingga masuk tahap sidang pemberian izin perceraian,"jelasnya.
Baca Juga: 51 Guru di Bojonegoro Akhiri Pernikahan Sepanjang 2025: Perceraian ASN Didominasi Gugatan Istri
Era mengungkapkan, mayoritas pengajuan perceraian dilakukan oleh ASN perempuan. Alasan yang disampaikan beragam, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pasangan yang terlibat judi online (judol), hingga tidak memberikan nafkah.
"Saat ini dari sektor pendidikan menjadi salah satu penyumbang pengajuan perceraian terbanyak. Sebagian besar berasal dari kalangan guru PPPK,"
Lebih lanjut, Era mengatakan, pihaknya juga terus melakukan pembinaan untuk mencegah persoalan rumah tangga ASN berujung pada perceraian. Pembinaan dilakukan sejak orientasi PPPK maupun secara rutin melalui organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kalau ada persoalan rumah tangga, kita carikan solusinya. Kalau memang sudah mentok, kita lanjutkan sesuai prosedur,” katanya.
Era berharap setiap persoalan rumah tangga ASN dapat diselesaikan dengan baik, terutama dengan mempertimbangkan kepentingan anak apabila pasangan tersebut telah memiliki buah hati.
“Harapannya awal yang baik dan akhir yang baik. Kalau sudah ada anak, itu harus menjadi pertimbangan,” pungkasnya. (ozi/ind)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah