RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pertanian organik di Blora tak lagi sekadar wacana. Pemkab Blora mulai membidik lahan di setiap desa untuk didorong menjadi kawasan pertanian tanpa ketergantungan bahan kimia.
Targetnya cukup besar. Sebanyak 295 desa atau kelurahan di Blora didorong memiliki minimal satu hektare lahan pertanian organik. Jika terealisasi, sedikitnya 295 hektare lahan organik bisa terbentuk di seluruh wilayah kabupaten.
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan, Blora memiliki modal kuat untuk mengembangkan pertanian organik. Produksi gabah kering giling (GKG) pada 2025 mencapai 530.818 ton. Angka itu naik 106.407 ton atau 25,07 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 424.411 ton.
‘’Produktivitas juga meningkat menjadi 50,98 kuintal per hektare. Sementara produksi beras mencapai sekitar 305.252 ton, naik 61.190 ton atau 25,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Namun, peningkatan produksi tersebut ingin dibarengi perubahan pola bertani.
Baca Juga: Pemkab Blora Makin Serius Kembangkan Pertanian Organik, Bupati Minta DP4 Lakukan Pendataan Lengkap
‘’Pertanian organik merupakan solusi masa depan yang tidak hanya menjaga kesehatan konsumen, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia berbahaya,” kata Arief.
Pemkab Blora telah menggandeng PCNU Blora untuk mendorong pengembangan pertanian organik. Kerja sama tersebut ditandatangani pada Juli 2025.
Arief kemudian mendorong setiap desa memanfaatkan tanah bengkok minimal satu hektare sebagai lahan percontohan. ‘’Jika satu desa bisa menyediakan satu hektare, tentunya di Blora ini ada 295 desa/kelurahan yang bisa ada juga 295 hektare pertanian organik,” terangnya.
Menurut dia, gerakan tersebut membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Pemkab juga menjajaki dukungan BUMN, termasuk Pertamina, untuk pembinaan petani.
‘’Blora harus menjadi kabupaten percontohan di bidang pertanian organik,” katanya. (hul/ind)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah