RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Proyek revitalisasi SMAN 1 Randublatung senilai Rp2,342 miliar tidak hanya menyisakan pekerjaan pembangunan fisik. Di balik proyek yang didanai pemerintah pusat tersebut, sekitar 30 pekerja bangunan belum memperoleh perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) di lokasi proyek juga dinilai belum maksimal.
Kepala SMAN 1 Randublatung, Harmoko, mengakui para pekerja lokal yang dilibatkan dalam proyek tersebut belum didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Menurutnya, proyek revitalisasi dilaksanakan secara swakelola dengan memanfaatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
"Para pekerja lokal memang belum tercover BPJS Ketenagakerjaan," ujarnya.
Baca Juga: Bus Sekolah Gratis di Blora Segera Beroperasi
Selain persoalan jaminan sosial ketenagakerjaan, Harmoko juga mengungkapkan masih rendahnya kepatuhan pekerja dalam menggunakan APD saat bekerja. Padahal, perlengkapan keselamatan menjadi bagian penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
Menurut dia, sebagian pekerja mengaku merasa kurang nyaman saat mengenakan APD sehingga memilih tidak menggunakannya.
"Mungkin para pekerja merasa risih atau terganggu saat menggunakan APD. Nanti akan kami ingatkan kembali supaya menggunakan APD," katanya.
Revitalisasi SMAN 1 Randublatung merupakan bagian dari Program Revitalisasi Sekolah Menengah Atas Tahun 2026 yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sekolah tersebut memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp2,342 miliar.
Baca Juga: Dinsos P3A Bakal Usulkan Tambahan Rombel Sekolah Rakyat Menengah Atas 18
Anggaran tersebut digunakan untuk membangun tiga ruang kelas baru, merehabilitasi tiga ruang kelas, membangun ruang administrasi, laboratorium fisika, serta toilet siswa.
Pekerjaan dimulai pada 22 Juni 2026 dengan target penyelesaian selama 180 hari kalender. Pencairan anggaran dilakukan secara bertahap. Tahap pertama sebesar 60 persen telah diterima sekolah, sedangkan sisa 40 persen akan dicairkan setelah progres pembangunan mencapai sedikitnya 50 persen.
Meski proses revitalisasi masih berlangsung, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan normal. Untuk sementara, sekolah memanfaatkan laboratorium kimia, laboratorium biologi, dan aula sebagai ruang kelas agar aktivitas pembelajaran tidak terganggu. (hul/zim)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah