RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemadaman listrik bergilir di Kabupaten Blora terus bergulir. Seluruh kecamatan kebagian giliran jadwal padam.
Durasi pemadaman rata-rata berlangsung 2 hingga 3 jam. Tak ada wilayah prioritas untuk terhindar dari pemadaman bergilir tersebut.
Belakangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui PT PLN (Persero) mengalami kendala pasokan batu bara kalori menengah untuk pembangkit listrik. Dampaknya, pemadaman bergilir diterapkan di berbagai daerah, termasuk Blora.
Manajer PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Blora Wardoyo memastikan, tak ada wilayah yang luput dari jadwal pemadaman.
“Setiap kecamatan pasti kena,” ujarnya.
Artinya, baik kawasan perkotaan maupun pelosok desa sama-sama harus bersabar saat aliran listrik diputus sementara.
Baca Juga: Pemadaman Listrik Bergilir Resahkan Masyarakat, Desak PLN Ganti Rugi
Wardoyo mengatakan, pemadaman dilakukan karena adanya kendala pada pembangkit. Namun, ia enggan menjelaskan lebih rinci penyebabnya.
“Kalau penyebabnya seperti yang ada di internet, sudah umum. Bisa dicari,” katanya.
Menurutnya, pemadaman berlangsung sekitar 2 hingga 3 jam dan dilakukan secara bergilir sesuai jadwal yang sebelumnya telah diumumkan kepada masyarakat.
“Seperti yang kami infokan di grup-grup,” imbuhnya.
Ia menegaskan, PLN ULP Blora hanya menjalankan instruksi dari sistem pembangkit listrik yang terhubung dalam jaringan interkoneksi nasional.
“Tergantung dari pembangkit. Kami tidak bisa memastikan. Pembangkit itu interkoneksi,” jelasnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, jadwal pemadaman terus bergulir. Pada 19–22 Juni 2026, giliran sejumlah wilayah di Kecamatan Cepu, Kradenan, Kedungtuban, Ngawen, Tunjungan, Blora Kota, hingga kecamatan lain yang merasakan listrik padam.
Baca Juga: Pemadaman Listrik Lumpuhkan Aktivitas UMKM, PLN Upayakan Pemulihan Pasokan
Kemudian pada Rabu (24/6), PLN kembali melakukan pemadaman dengan alasan pemeliharaan jaringan. Kali ini, Desa Sambiroto, Sendangwates, Ngawenombo, dan Kedungwaru terdampak sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
“Bagi warga, pemadaman yang semula disebut bergilir kini terasa seperti rutinitas. Bedanya hanya menunggu kapan nama desanya muncul dalam daftar berikutnya,” ungkapnya. (hul/ind)
Editor : Bhagas Dani Purwoko