RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Gerakan pembuatan pupuk organik di Blora terus digencarkan. Tercatat sudah sekitar 2.200 petani yang telah memanfaatkan kotoran ternak menjadi pupuk.
Tahun ini gerakan tersebut terus digencarkan dengan melibatkan Babinsa. Target bertambah menjadi 3.000 lebih pembuat pupuk organik.
Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora Lilik mengungkapkan, saat ini petani yang telah menerapkan pupuk organik masih perlu ditingkatkan.
Sebab, dari banyaknya petani di blora, tercatat 2.200 petani yang membuat pupuk organik. “Kami baru 2.200 kotak pembuatan pupuk. Masih kurang banyak jumlah petaninya,” ungkapnya.
Lilik menjelaskan, untuk menambah partisipasi petani, salah satu yang diupayakan tahun ini dengan melibatkan Babinsa. Pihaknya bakal berkoordinasi dengan Dandim Blora.
“Tahun ini kami kolaborasi dengan babinsa untuk mengajak petani. Rencananya kami akan sampaikan ke pak Dandim nanti babinsa kami lombakan buat ngajak petani buat pupuk organik,” katanya.
Tentu, penyuluh pertanian tetap dilibatkan. Pihaknya menargetkan bisa mencapai 5.000 petani. Untuk tahun ini bisa bertambah dari 2.200 petani menjadi 3.000 lebih petani yang membuat pupuk organik.
“Tahun ini bisa di 3000 lebih, kalau 5 ribu sudah bagus bisa dijadikan contoh,” terang dia. Lilik menambahkan, program yang telah diterapkan tersebut mendapat penghargaan inovasi dari kemendagri.
Bahkan, direplikasi oleh Provinsi Sumatera Utara. “Inovasi tidak harus digital tapi permasalahan lokal yang bisa atasi,” kata dia.
Ia menegaskan, pemerintah memfasilitasi pembuatan pupuk organik dengan menyediakan fermentor, atau probiotik yang bisa memfermentasi kotoran sapi yang melimpah di Blora menjadi pupuk yang siap digunakan.
“Pemerintah menyediakan fermentasinya, atau probiotiknya kami sediakan. Siapa yang mau membuat pupuk organik bisa mengajukan kepada kami,” terang dia. (luk/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko