Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Jelang Pilkada Blora 2024, Gerindra Tolak Pilkada Lawan Bumbung Kosong: "Lebih Jahat dari Politik Dinasti"

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 16 Juli 2024 | 19:15 WIB
’’Yang begitu (lawan bumbung kosong) lebih jahat daripada politik dinasti. Sebab, politik dinasti masih bertarung. Masih memberikan ruang bagi yang lain," - Djoko Nugroho (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BLO
’’Yang begitu (lawan bumbung kosong) lebih jahat daripada politik dinasti. Sebab, politik dinasti masih bertarung. Masih memberikan ruang bagi yang lain," - Djoko Nugroho (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BLO

 

BLORA, Radar Bojonegoro - Mantan Bupati Blora Djoko Nugroho tolak Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Blora 2024 yang berpotensi hanya mengusung pasangan calon (paslon) tunggal. Sebab, menurutnya hal itu mencederai semangat demokrasi.

Djoko Nugroho atau yang akrap disapa Kokok yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Blora menjelaskan, bahwa demokrasi di Kabupaten Blora harus hidup. Tidak boleh didominasi salah satu kelompok.

Apalagi sampai terjadi adanya paslon tunggal. Seharusnya, memunculkan calon-calon dengan potensi terbaik. Sehingga, masyarakat punya banyak pilihan.’’Yang penting bagi saya, jangan sampai lawan kotak atau bumbung kosong. Ini cara berpolitik tidak baik. Harus ada lawan,” jelasnya.  

Bahkan, pihaknya tak segan-segan menyebut hasrat memunculkan paslon tunggal dan membuat skenario pilkada berhadapan dengan bumbung kosong adalah perbuatan jahat.

’’Yang begitu (lawan bumbung kosong) lebih jahat daripada politik dinasti. Sebab, politik dinasti masih bertarung. Masih memberikan ruang bagi yang lain. Kalau kotak kosong kan tidak,” ujarnya.

DPC Partai Gerindra Blora pun mengklaim telah menjalin komunikasi dengan Golkar dan PDIP. Komunikasi itu dilakukan untuk menjajaki potensi membentuk koalisi pada Pilkada Blora 2024.

Kokok pun menjelaskan, bahwa partainya pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 mendapatkan lima kursi. Sehingga, harus tetap menjalin koalisi untuk bisa mencalonkan paslon bupati dan wakil bupati.

’’PKB dan Nasdem kan sudah jelas. Di luar itu (masih) kosong. Bisa Golkar atau PDIP. Ketika punya kepentingan sama. Visi misi yang sama klop. Ya bisa saja,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua DPC PKB Blora Abdul Hakim mengatakan, survei Arief Rohman-Sri Setyorini cukup tinggi dan jauh dari calon lainnya. Yaitu, sekitar 70 persen. Dengan data tersebut, Gus Hakim memprediksi pilkadananti berpotensi melawan bumbung kosong.

’’Prediksinya seperti itu. Namun, kami tidak jemawa. Tetap, mencoba komunikasi dan silaturahmi kepada semua partai yang ada di Blora agar bisa bersinergi bersama,” jelasnya. (hul/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#paslon tunggal #nasdem #Djoko Nugroho #golkar #DPC #paslon #pilkada #Kokok #pileg #bumbung kosong #pkb #Gerindra #demokrasi #blora #pdip