‘’Hingga hari ini ONLIMO-nya masih eror. Belum bisa digunakan mendeteksi kualitas kadar air Bengawan Solo. Alatnya belum dikirim dari Jakarta,’’ ungkap Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Blora Gartini kemarin (30/1).
Gartini menyampaikan, alat yang ditempatkan di sekitar bantaran sungai di Cepu itu tertimbun longsor. Alat itu berdampingan dengan pipa penyedot air milik PDAM Cepu. Longsoran itu mengakibatkan air yang masuk dalam alat pendeteksi tersumbat tanah.
‘’Karena kondisi air sungai surut, saat ini sampahnya juga banyak numpuk di DAS (daerah aliran sungai)-nya," terangnya.
Gartini menjelaskan, alat pengukur kualitas air baru terpasang tahun ini dari dana alokasi khusus (DAK). Alokasinya sekitar Rp 1,2 miliar. Saat ini masih tahap pemeliharaan penyedia jasa. Sehingga, untuk pengajuan pergantian alat saat terjadi kerusakan masih menjadi tanggung jawab penyedia.
‘’Kami sudah kirim pengajuan. Alat pengukur ONLIMO dibeli dari luar negeri,’’ jelasnya.
Alat yang sama sebelumnya juga terpasang di Kecamatan Kradenan. Namun alat tersebut diklaim juga mengalami kendala server. Sehingga, pengukuran kualitas air tidak bisa akurat. ‘’Kalau itu digunakan belum memenuhi kriteria kondisi kualitas air," terangnya. (luk/zim) Editor : M. Yusuf Purwanto