Dorongan ini upaya membantu petani mengurangi ketergantungan pupuk subsidi. Sebab, para petani kebingungan mencari alternatif lain. Terutama, setelah kuota pupuk subsidi dari pusat terus berkurang.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Bersama (Gapoktan) Blora Yusuf Nurbaidi mengapresiasi upaya pupuk organik agar petani mengurangi ketergantungan pupuk bersubsidi. Serta menjadi alternatif ketika pupuk kimia dari pemerintah pusat seperti urea, nitrogen fosfor kalium (NPK) dikurangi kuotanya.
Sebelumnya, keluhan ketersediaan pupuk juga disampaikan saat musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) kabupaten beberapa hari lalu. ‘’Keunggulan pupuk organik membantu menyuburkan tanah. Di sisi lain pupuk kimia ini justru berpengaruh terhadap kerusakan unsur tanah. Misalnya, di wilayah Cepu tanahnya sudah rusak,’’ jelasnya.
Sesuai instruksi Bupati Arief Rohman, seluruh gapoktan di Blora membuat pupuk organik dari kotoran sapi sendiri mengingat Blora kaya ternak sapi. Apalagi, produksi pupuk organik secara mandiri beserta penggunaannya mulai digeliatkan sejumlah universitas di Indonesia.
Selain itu, terhitung jumlah ternak sapi di Blora sekitar 278 ribu ekor. Tentu, menjadi potensi produksi pupuk organik. ‘’Segala aspek sudah mulai mendukung. Hanya, perlu menyadarkan masyarakat, bagaimana mengubah pola pikir para petani segera bisa mempergunakan pupuk organik ini,’’ jelasnya kemarin (21/3).
Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Gundala Wejasena mengatakan, sudah saatnya para petani tidak menggantungkan pupuk subsidi dari pemerintah. Tetapi harus bisa mandiri membuat pupuk organik dari kotoran sapi. (hul/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto