Juga, pasar hewan ditutup sementara demi pencegahan PMK. Diberitakan sebelumnya, hingga Senin (8/1) ada 261 sapi mati di Kecamatan Todanan.
Mu’alif peternak sapi mengakui awal tahun ini mengalami kerugian akibat PMK. Turunnya harga sapi ini mengkhawatirkan peternak sapi meski tidak terlalu drastis. ‘’Saya anggap tidak parah secara harga. Tapi virus ini merebak keseluruh ternak sapi di Blora. Terparah di Kecamatan Todanan,’’ jelasnya.
Menurut dia, sapi mati karena terkontaminasi dari kandangnya sendiri. Beberapa anak sapi mati karena belum kuat memerangi virus yang menyebar.
Sutikno salah satu pedagang mengatakan, terdapat sapi yang sampai tidak laku sesuai harga pasaran normal. ‘’Kemarin ada yang dijual Rp 10 juta saja masih tidak laku,’’ ungkapnya.
Sarni, salah satu warga berjualan minuman di area pasar hewan juga merasakan dampak dari virus PMK terpaksa ditutup sementara. ‘’Jadinya sepi. Saya tidak jualan sapi juga rugi dan merasa kasihan para peternak,’’ ungkapnya.
Terpisah, Joko Hadi Susilo akademisi ekonomi mengatakan, secara ilmu ekonomi, kualitas dan kesesuaian suatu produk sangat memengaruhi pembelian konsumen. ‘’Semakin tinggi kualitas produk memengaruhi harga,’’ jelasnya.
Hal ini berbanding terbalik kondisi hewan ternak sapi saat ini akibat adanya virus PMK. Satu sisi, peternak hewan sapi tidak ingin mengalami kerugian, tetapi sapi yang dijual tidak mempunyai kualitas baik.
‘’Akibatnya jumlah penawaran semakin banyak dan permintaan hewan ternak sapi menurun berdampak harga relatif rendah,’’ jelasnya. (hul/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto