Proyek itu dinilai bisa menjadi pengendali banjir langganan di Kecamatan Cepu.
"Sudah kami anggarkan tahun ini untuk mengawali program penanganan banjir cepu saat ini kami proses pengadaan langsung untuk konsultan perencana, senin (hari ini) tandatangan kontrak," ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan ruang (DPUPR) Blora, Surat, kemarin (8/1).
Surat menjelaskan, pembangunan embung menelan biaya Rp 4 miliar, diantaranya Rp 3,7 untuk kontruksi bangunan. Embung bakal ditempatkan di Desa Nglebok, dengan lahan sekitar 1 hektare. "Perkiraan kami satu hektare itu cukup (untuk pembangunan embung)," terangnya.
Selain embung sebagai pengendali air hujan yang menyebabkan banjir Cepu, juga merevitalisasi saluran yang berada dibawahnya meliputi empat kelurahan yakni , Cepu, Tambakromo, Balun, Karangboyo dan Desa Mulyorejo.
Beberapa kegiatan pembangunan embung di nglebok di sekitar hulu, panjanga saluran berada di keluran Cepu Tambakromo, Balun, Mulyorejo, Balun dan kelurahan Karangboyo. Ditambah satu Desa Mulyorejo Kecamatan Cepu. Sesuai hasil survei, kelimanya merupakan lokasi banjir saat hujan deras melanda wilayah cepu.
"Untuk yang saluran irigasi juga walau nilainya cukup sedikit," terangnya.
Pihanya menargetkan proyek selesai tahun ini, dengan proses lelang konstruksi di LPSE pada Maret dan April sudah tanda tangan kontrak dengan rekanan, kemudian mulai pengerjaan. (luk/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto