Warga Desa Kedungkesatriyan, Kecamatan Ngawen ini kreatif menyulap bambu apus, yang banyak tumbuh di desa setempat menjadi nilai jual tinggi.
Ia mengaku, proses pengerjaan masih manual menggunakan tangan dan parang untuk membelah bambu menjadi tipis.
"Adanya kelompok ini sekitar 3 tahunan, sebelumnya warga hanya produksi kukusan dan besek, setelah ada kelompok banyak berkembang," tutur Susilowati.
Kelompok yang dinamai Omah Anyaman itu sudah berjalan hampir 3 tahun lalu, dengan memberdayakan masyarakat desa. Tidak pernah kehabisan bahan baku, sebab bambu apus banyak tersedia di desa. Para pengrajin merupakan ibu-ibu rumah tangga, dengan adanya kerajinan tersebut menambah pemasukan mereka.
"Usai mengerjakan dikumpulkan, rerata kalau satu orang bisa selesaikan hampir 50 an anyaman," jelasnya.
Susilowati menjelaskan, produk anyaman bambu sudah beragam bentuk, seperti tas yang digunakan untuk pergi ke pasar, keranjang buah, bakul nasi, dan lainnya. Rerata penanan terbanyak adalah besek dan wadah buah.
"Pesanan banyak itu untuk catering dan acara hajatan, banyak itu yang pesan," ujarnya.
Selain menyuplai kebutuhan di daerah, distribusi produk anyaman bambu kelomponya sudah menjamah hingga luar daerah, seperti Jakarta, Kalimantan, dan Jogja.
Melalui media sosial produknya bisa banyak terjual. "Terlebih juga getok tular sesama UMKM itu ikut membantu juga," terangnya. (luk/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto