"Rutin monitoring titik irigasi. Saat ini ada 183 titik irigasi dengan kapasitas sekitar 13.500 hektare," kata Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR)Blora Surat kemarin (15/9).
Dia menjelaskan, jumlah tersebut rerata berada di kawasan tengah dan utara Blora. Sedangkan wilayah selatan sudah dipasok pompa air, dikelola Balai Besar Bengawan Solo (BBWS). Dibanding wilayah utara dan selatan lebih terjamin pasokan airnya sehingga berdampak masim tanam.
"Di selatan bisa tiga kali sedangkan di utara dan tengah hanya dua kali musim tanam," jelasnya.
Dia mengungkapkan, masih berkoordinasi dengan komisi irigasi di daerah untuk pemanfaatan pemanfaat air. Beberapa usulan petani akan dibahas dalam komisi tersebut.
“Mewujudkan keterpaduan pengelolaan sistem irigasi," ujarnya.
Surat menjelaskan, komisi irigasi akan melakukan sidang pertamanya membahas beberapa hal terkait monitoring dan evaluasi (monev) musim hujan mendatang. Selain itu, alokasi air daerah irigasi di Waduk Tempuran dan Greneng.
"Upaya membangun sinergitas mengambil kebijakan pengelolaan sumber daya air dari para pihak. Nantinya dapat memberi masukan dan rekomendasi kepada Bupati," jelasnya.
Selain penampungan curah hujan, musim peralihan perlu diwaspadai intensitas hujan tinggi pada kawasan pegunungan berpotensi bencana hidrometeorologi. Seperti longsor, bandang, dan banjir, serta potensi angin kencang. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto