Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan, Dinas Perumahan, Permukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Blora Ruswanto mengungkapkan, belum mempunyai data tentang delman. "Kalau data tersebut (delman) kami tidak punya," katanya kemarin (7/8).
Mellynia Fitrohana, salah satu warga Desa Ngroto, Kecamatan Cepu mengungkapkan, saat ini delman mulai jarang ditemui. Pada tahun 2012 masih banyak delman mengangkut warga ke pasar. "Saat itu saya masih SMP, saat ini berkurang sekali, mungkin yang ada masih ada di desa tinggal satu," katanya.
Mellynia menerangkan, selain di desanya beberapa pemilik delman masih aktif di daerah sumberpitu. Namun, saat ini pemilik delman lebih memilih untuk dimodifikasi menjadi transportasi wisata di sekitar Cepu.
"Rata-rata delman saat ini digunakan untuk wisata di Tuk Buntung," katanya.
Sebelumnya, Andri, salah satu koordinator delman di Tuk Buntung menjelaskan, beberapa delman di Tuk Buntung dikelola kelompok, dalam satu minggu ada dua kelompok yang bertugas.
Setiap kelompok, jumlah kereta dibedakan, saat dirinya jaga, ada sekitar 9 kereta kuda dan kelompok lainnya ada 8 kereta kuda. "Sedangkan untuk malam minggu semuanya jadi satu," jelasnya.
Menurut Andri, peminat naik kereta kuda paling banyak saat malam minggu, dengan tetap ada pembatasan waktu pukul 10.00 harus selesai. Sedangkan untuk pembagian keuntungan, langsung masuk ke kantong pribadi. (luk/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto