RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Produk olahan kayu jati dan briket arang menembus pasar ekspor. Sasaran sejumlah negara di Timur-Tengah hingga Eropa. Setiap tahun nilai transaksi ekspor briket mencapai Rp 22 miliar.
Sedangkan, untuk furnitur kayu jati mencapai Rp 2 miliar. Sektor industri ini masih menjadi tumpuan pelaku usaha dan menyerap pekerja.
Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Dinperinaker) Blora Endro Budi Darmawan mengatakan, dua jenis usaha pabrik milik swasta di daerah sudah tembus pasar ekspor.
Pabrik briket berada di Kecamatan Jepon dan Kunduran. Nilai ekspor tiap tahunn mencapai Rp 20 miliar hingga Rp 22,7 miliar.
"Nilai ekspor briket PT Setya Nusantara paling banyak, di daerah ada dua yang Rp 20 miliar di Kunduran PT Black Diamond," jelasnya.
Endro menerangkan, pasar ekspor kedua pabrik sampai di beberapa negara Eropa dan Timur-Tengah. Meliputi Jerman, Valencia, Turki, India, Beirut, dan Dubai.
Briket asal Blora ini digunakan pemanas ruangan dan beberapa restoran. "Digunakan untuk bakar daging atau berbeque," tuturnya.
Sedangkan, produk kayu jati, lanjut Endro, dimanfaatkan untuk produk furnitur pengisi ruangan. Satu perusahaan telah melakukan kerja sama ekspor produk kayu jati daerah.
Nilai ekspornya mencapai sekitar Rp 2 miliar lebih. "Peminatnya paling banyak dari Amerika dan Israel," jelasnya.
Ia menjelaskan, ekspor furnitur ini melalui jalur importer pihak lain. Ada dua importer yakni Carlos dan Shariket.
Jumlah ekspor terbanyak pada September lalu, nilainya mencapai sekitar Rp 200 miliar. Akhir tahun lalu nilai ekspor mencapai Rp 2 miliar lebih.
Endro menjelaskan, pemerintah daerah tahun ini menargetkan satu produk lokal bisa di ekspor yakni daun kelor.
Ada desa saat ini mulai dikembangkan memenuhi permintaan luar negeri. "Tahun ini kami targetkan olahan daun kelor bisa masuk di pasar ekspor," klaimnya. (luk/rij)
Editor : M. Yusuf Purwanto