Ngatini, petani asal Desa Tambakromo, Kecamatan Cepu, mengatakan, panen raya tahun ini tidak menguntungkan. Tidak mendapat keuntungan dari penjualan gabah. Harganya anjlok. Per kilogram sekitar Rp 3.400. Harga berbeda jika menggunakan mesin combine sekitar Rp 4.200.
"Panen raya justru harganya turun. Lagi-lagi petani susah tidak dapat untung," jelasnya ditemui di area persawahan.
Ngatini mengaku pasrah kondisi saat ini. Setiap panen raya harga tidak kunjung stabil. Ia mengaku hanya balik modal. Sedangkan memenuhi kebutuhan dapur lain, ia memanfaatkan pekarangan untuk ditanami palawija. "Tanam palawija sedikit, alhamdulillah bisa dibuat belanja," terangnya.
Ngatini menjelaskan, setiap kali panen segera dijual kepada tengkulak. Keresahan petani, menurut dia, berharap ada kebijakan dari pemerintah untuk penstabilan harga saat panen raya. Terlebih dirinya menyewa tanah milik desa dari proses lelang.
"Perlu memikirkan biaya sewa lahan. Kalau tidak dapat untung, sudah menjadi risiko petani bekerja ya ada kalah menang," ujarnya.
Ketua DPRD Blora M. Dasum mengimbau agar dinas pangan, pertanian, peternakan, dan perikanan (DP4) memberikan solusi bagi petani mengalami gagal panen. Misalkan diberikan intensif bantuan keuangan atau penyuluhan.
"Harus aktif mendampingi petani di bawah dan permasalahan yang ada di lapangan," jelasnya. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto