Sorot matanya fokus membentuk ukiran agar sesuai desain. Mengikuti pola yang akan dibentuk. Nantinya, garapan dari tangan dinginnya ini menjadi ukiran memukai dan menjadi komoditas ekspor. “Sudah ada yang memesan dari salah satu perusahaan di Semarang. Nantinya dikirim ke luar negeri,” tutur Irawan salah satu pekerja saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro, Kamis (17/2).
Irawan menjelaskan, ukiran kayu dibentuk dalam berbagai macam variasi. Bisa menjadi hiasan dengan gaya khas kayu jati Blora. Begitupun furnitur pengisi ruangan, seperti meja tamu dan kursi duduk. “Kalau yang sedang saya buat untuk dijadikan meja,” tutur pemuda asal Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon itu.
Akar kayu jati menjadi karya ukiran mengagumkan di Blora. Menjadi harta karun yang terpendam lama di tanah. Akar jati ini rerata sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Hal itu bisa dilihat dari tingkat kerak dan kekeringan dari akar kayu. Semakin kering dan berkerak, semakin tua usia akar kayu. Sedangkan untuk yang berusia puluhan tahun kadar air masih ada.
“Cara membedakannya cukup mudah, dengan melihat kadar air dalam kayu,” jelasnya.
Menurut Irawan, hasil produksi disetorkan kepada pabrik berada di luar daerah. Dari pabrik itu dikirim ke luar negeri. Harga dipatok bervariasi, tergantung usia kayu dan kerumitan ukiran. “Semakin banyak cabangnya semakin harganya tinggi,” tuturnya.
Semua akar kayu jati yang diproduksi ini didapatkan dari kawasan hutan Blora. Akar jati ini diperoleh dengan transaksi pembelian yang resmi dari pihak Perhutani. “Semuanya mempunyai izin jual beli sah,” tuturnya.
Perajin kayu Blora didukung letak geografis wilayah sebagian besar dikelilingi hutan, terutama jenis pohon jati. Tidak heran banyak orang memanfaatkannya untuk membuat kerajinan. Salah satunya akar jati dibentuk menjadi ukiran.
Para perajin akar kayu pun rerata berada di pinggiran tidak jauh dari kawasan hutan, seperti Kecamatan Jepon, Jiken, Sambong dan beberapa wilayah lain berdekatan dengan hutan. Menurut Irawan, Blora Mustika memang terkenal dengan kayu jatinya. Sehingga dengan bekerja sebagai tukang ukir kayu para pengrajin juga menjaga identitas daerah. (luk/rij)
Editor : Ebiet A. Mubarok