RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bojonegoro telah lama dikenal sebagai daerah kaya akan sumber daya alam yang diapat dioleh menjadi berbagai produk. Selain migas, kayu jati dan berbagai tanaman pangan, salah satu industri ikonik Bojonegoro adalah industri tembakau.
Mulai dari pertanian tembakau hingga industri pengolahan tembakau, seluruh aspek industri tersebut terdapat lengkap di berbagai penjuru Kota Ledre. Tentu, kesuksesan industri bergantung dari petani tembakau yang memerlukan berbagai sumber daya, seperti air, pupuk dan berbagai sarana.
Karena itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro mendukung berbagai kelompok tani tembakau Bojonegoro melalui berbagai upaya. Selain memberikan berbagai sarana dan prasarana seperti pupuk, jalan usaha tani (JUT) dan irigasi, DKPP Bojonegoro juga memberikan pelatihan untuk memanfaatkan hibah tersebut.
’’Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) oleh DKPP ada tiga program, yakni pelatihan peningkatan kualitas tembakau, pemberian bantuan, sarana dan prasarana tani, dan pemberian alat pascapanen,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman (Sarpras dan Perlintan) DKPP Bojonegoro Retno Budi Widyanti.
’’Bantuan pupuk yang kami berikan berupa pupuk non-subsidi khusus tembakau.Kebetulan saat ini pupuk tembakau saat ini tidak lagi disubsidi, sehingga Kementrian Keuangan memberikan saran agar dana DBHCHT digunakan untuk pemberian pupuk kepada petani,” jelas Retno.
Menurut Retno, bantuan pupuk diberikan kepada 22 gabungan kelompok tani (gapoktan), dengan total sebanyak 370 ton. Di samping itu, berbagai kelompok tani juga menerima berbagai bantuan sarana dan prasarana seperti traktor tangan, JUT, irigasi, serta alat rajang untuk pengolahan tembakau pascapanen.
Tidak hanya pemberian bantuan, DKPP Bojonegoro juga memberikan pendampingan kepada kelompok tani penerima bantuan tersebut. ’’Agar dapat tepat guna, misal petani jadi tahu bagaimana pemupukan yang benar, dosis pupuk yang benar, bagaimana cara menangani hama, dan lain sebagainya,” ungkap Retno.
’’Pelatihan kami sajikan dalam bentuk penyuluhan, mulai penanaman hingga panen. Kami bersama BSIP (Balai Standar Instrumen Pertanian) memberikan pendampingan untuk sepuluh kelompok tani, dengan pelatihan sepuluh kali per kelompok,” lanjutnya.
Kelompok tani yang menerima bantuan mayoritas berasal dari daerah industri tembakau, seperti edungadem, Kepohbaru, Kanor, Baureno dan masih banyak lagi.
Retno berharap dengan pemberian bantuan dan pelatihan tersebut, petani tembakau Bojonegoro dapat memenuhi prinsip upaya bertani baik (good agriculture practices), sehingga dapat melakukan budidaya yang benar dan ramah lingkungan, serta meningkatkan produktivitas tanaman tembakau.
’’Kemudian alat pascapanen dapat digunakan untuk meingkatkan nilai tembakau, karena ada perbedaan harga antara daun tembakau yang belum dirajang dengan yang telah dirajang,” tambah Retno.
Selain itu, saran dan prasana juga dapat membantu kesejahteraan petani tembakau dengan tidak hanya membantu pekerjaan di ladang, namun juga menekan biaya produksi. “Jadi, pekerjaan petani lebih mudah hingga saat memanen, misal jika tidak ada sarana dan prasarana tersebut biaya produksi dapat menjadi lebih mahal. Dengan adanya sarana seperti JUT, transportasi dari dan menuju ladang jadi lebih mudah,” ujar Retno. (*/edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana