RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Warna-warni bunga tabebuya menjadi pesona yang menghiasi Kota Bojonegoro di puncak musim kemarau. Pepohonan bunga bernama ilmiah handroanthus chrysotrichus atau tabebuia chrysotricha tersebut menghiasi berbagai sudut Kota Ledre.
Dan, ketika mekar, menyulap ruas jalan protokol Bojonegoro menjadi mirip jalanan di Tokyo, Jepang. Meskipun beda famili dan negara asal, tampilan bunga tabebuya mirip dengan bunga khas Jepang, sakura.
Selain tabebuya, pohon pule juga mulai ditanam di ruas jalan perkotaan Bojonegoro sebagai pohon peneduh. Pemilihan kedua pohon tersebut berbarengan dengan pembaruan trotoar dalam Kota Ledre, dan selain karena keindahannya, keduanya dipilih untuk mempermudah perawatan dan tata kota.
’’Beberapa tahun penanaman tabebuya trending di kota-kota besar karena keindahannya. Selain itu untuk Kota Bojonegoro, selain untuk keindahan, jika kita tanami tanaman peneduh yang kuat dan besar, akarnya dikhawatirkan merusak trotoar,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Dandy Suprayitno.
’’Akar tabebuya sifatnya tidak merusak meskipun dapat hidup lama, sebagaimana yang dapat diperhatikan di kota-kota besar, sehingga pilihan penanaman jatuh pada pohon tabebuya. Pohon tabebuya dapat hidup hingga 10-15 tahun, namun tantangannya saat ini adalah menjaga agar bunga mekar lebih dari seminggu,” lanjut Dandy.
Tabebuya berasal dari Brazil, negara yang sama-sama memiliki iklim panas seperti Bojonegoro. ’’Umumnya tabebuya berbunga setahun sekali, kecuali jika suhu melebihi 35 derajat Celcius. Walaupun panas tetap berbunga, sesuai dengan karakternya sebagai tanaman iklim panas,” ungkap Dandy.
Selain itu, tabebuya juga tergolong mudah dirawat ketimbang pohon kebanyakan. ’’Tabebuya sebenarnya tidak butuh banyak air, hanya butuh dua hari sekali disiram sudah tumbuh,” papar Dandy.
Latar belakang serupa juga mendasari pemilihan pohon pule sebagai pohon peneduh baru, berhubung daunnya rindang. ’’Untuk pohon pule serupa dengan tabebuya di akarnya, sama-sama tidak merusak trotoar. Daunnya juga bagus, hijau, dan tingginya lumayan,” lanjut Dandy.
’’Idealnya, pilihan kami adalah pohon trembesi sebagai pohon penghasil oksigen terbesar. Namun akarnya cenderung merusak trotoar, sehingga trembesi ditanam di jalan poros desa dengan lahan sempadan jalan,” tambahnya.
Ke depannya, pohon-pohon tabebuya akan dirawat dan ditata kembali agar dapat tumbuh rata dan tidak menjadi penghalang kabel listrik. ’’Saat ini belum dipangkas karena belum rata, nanti saat telah tumbuh rata ke atas kita pangkas sesuai aturan agar tidak melebihi instalasi kabel listrik,” ujar Dandy.
Selain area perkotaan, penanaman pohon juga ditingkatkan di area pedesaan. ’’Sejak akhir tahun lalu kami memulai Gerakan Suka Menanam (GSM). Sejak saat itu, tahun ini kami secara masif bersama-sama menanami sempadan jalan desa bersama masyarakat dan pemerintah desa,” ungkap Dandy.
’’Setiap tanaman, kami beri jarak 10 meter sesuai aturan, jadi ada pohon trembesi, kemudian (10 meter berikutnya) trembesi lagi, di tengahnya ada tabebuya. Selain sebagai TPT (tembok penahan tanah), tabebuya ditambah sebagai tanaman keindahan,” lanjutnya.
’’Selain trembesi dan tabebuya, ada pula pohon pecutan, glodokan, dan masih banyak lagi. Kami sesuaikan dengan lahan yang ada, serta fungsi utama sebagai peneduh, penahan tanah, dan keindahan,” tambah Dandy.
Harapannya, program GSM dapat merangkul masyarakat untuk merawat lingkungan secara turun temurun. ’’Dengan keterlibatan pemerintah desa, masyarakat juga turut serta. Jika masyarakat turut serta, tanaman dapat tumbuh dan tidak mubazir, serta ada transformasi kepada keluarga dan generasi untuk mencintai lingkungan dengan cara menanam,” ungkap Dandy. (edo/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana