alexametrics
25.6 C
Bojonegoro
Thursday, August 11, 2022

Menko Airlangga dan Perdana Menteri Belanda Perkuat Kerja Sama Kedua Negara

DAVOS, Radar Bojonegoro Perdagangan bilateral Indonesia dan Belanda selalu menunjukkan surplus bagi Indonesia. Pada 2020, nilai perdagangan bilateral tercatat mencapai US$ 3,92 miliar, di mana ekspor Indonesia mencapai US$3,11 miliar dan impor senilai US$804,3 juta.

 

Di sela-sela agenda World Economic Forum Annual Meeting (WEFAM) 2022 di Davos-Swiss, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Rabu (25/5). Pertemuan ini digelar membahas hubungan kerja sama ekonomi kedua negara dan situasi global saat ini.

 

Menyoal perdagangan bilateral, Belanda merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-11 bagi Indonesia, dengan komoditas utama antara lain minyak kelapa sawit (14 persen), produk kimia (12 persen), kopra dan produk turunannya (6 persen), minyak nabati atau hewani dan produk turunannya (6 persen), minyak bumi (5 persen), cokelat, mentega, lemak dan minyak (3 persen), timah (3 persen), produk alas kaki (2 persen), serta asam dan produk turunannya (2 persen).

Baca Juga :  Menko Tegaskan Kunci Inovasi Digital untuk Pertumbuhan Ekonomi Tangguh

 

Rentang 2016-2021, Belanda menjadi investor terbesar ke-5 dari total 157 negara berinvestasi di Indonesia. Nilai investasinya sebesar US$9,68 miliar atau 5,43 persen dari total realisasi investasi asing. Investasi terbesar Belanda di Indonesia berada pada sektor listrik, gas, dan air (34 persen), sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi (19,2 persen), serta sektor pertambangan (16,7 persen).

 

Terkait investasi, Menko Airlangga menyampaikan reformasi regulasi terkait investasi di Indonesia. Juga disampaikan beberapa perhatian khusus terhadap dampak perekonomian akibat situasi geopolitik terjadi, dan beberapa isu penting bagi kedua negara seperti peningkatan akses pasar produk Indonesia dan kerja sama kelapa sawit berkelanjutan.

 

Sebagaimana diketahui, Indonesia dan Belanda memiliki MoU on Cooperation in Sustainable Production of Palm Oil (2019) dan Technical Arrangement (2020). Implementation Plan NI-SCOPS telah disepakati pada 24 April 2020. Menko Airlangga mendorong peluang kerja sama bidang semikonduktor. Serta pengembangan investasi perusahaan Belanda di Indonesia, seperti Unilever pada sektor oleochemical di KEK Sei Mangkei, Philips pada sektor kesehatan, dan Frisian Flag pembangunan pabrik Susu di Cikarang. Di tingkat global, Menko Airlangga menyampaikan harapan kehadiran PM Belanda di KTT G20 di Bali, pada 15-16 November 2022 mendatang.

Baca Juga :  Komisi C Tingkatkan Kepariwisataan

 

Dalam diskusi, PM Rutte menyampaikan agar proses investasi untuk ekspansi usaha perusahaan-perusahaan Belanda akan semakin mudah dengan adanya reformasi struktural dapat meringkas waktu proses perizinan di Indonesia.

 

Belanda membuka diri apabila Indonesia memberikan kesempatan berinvestasi di dunia pendidikan. Baik pendidikan tinggi maupun pelatihan vokasi, termasuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswa Indonesia ingin belajar ke Belanda melalui beasiswa Nuffic-Neso. Serta, Belanda menyediakan sistem pembelajaran daring menggunakan teknologi terkini. (dep7/rep/fsr)

DAVOS, Radar Bojonegoro Perdagangan bilateral Indonesia dan Belanda selalu menunjukkan surplus bagi Indonesia. Pada 2020, nilai perdagangan bilateral tercatat mencapai US$ 3,92 miliar, di mana ekspor Indonesia mencapai US$3,11 miliar dan impor senilai US$804,3 juta.

 

Di sela-sela agenda World Economic Forum Annual Meeting (WEFAM) 2022 di Davos-Swiss, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Rabu (25/5). Pertemuan ini digelar membahas hubungan kerja sama ekonomi kedua negara dan situasi global saat ini.

 

Menyoal perdagangan bilateral, Belanda merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-11 bagi Indonesia, dengan komoditas utama antara lain minyak kelapa sawit (14 persen), produk kimia (12 persen), kopra dan produk turunannya (6 persen), minyak nabati atau hewani dan produk turunannya (6 persen), minyak bumi (5 persen), cokelat, mentega, lemak dan minyak (3 persen), timah (3 persen), produk alas kaki (2 persen), serta asam dan produk turunannya (2 persen).

Baca Juga :  Pemkab Cilacap Apresiasi Kepada Satgas TMMD Reguler 106 Kodim Cilacap

 

Rentang 2016-2021, Belanda menjadi investor terbesar ke-5 dari total 157 negara berinvestasi di Indonesia. Nilai investasinya sebesar US$9,68 miliar atau 5,43 persen dari total realisasi investasi asing. Investasi terbesar Belanda di Indonesia berada pada sektor listrik, gas, dan air (34 persen), sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi (19,2 persen), serta sektor pertambangan (16,7 persen).

 

Terkait investasi, Menko Airlangga menyampaikan reformasi regulasi terkait investasi di Indonesia. Juga disampaikan beberapa perhatian khusus terhadap dampak perekonomian akibat situasi geopolitik terjadi, dan beberapa isu penting bagi kedua negara seperti peningkatan akses pasar produk Indonesia dan kerja sama kelapa sawit berkelanjutan.

 

Sebagaimana diketahui, Indonesia dan Belanda memiliki MoU on Cooperation in Sustainable Production of Palm Oil (2019) dan Technical Arrangement (2020). Implementation Plan NI-SCOPS telah disepakati pada 24 April 2020. Menko Airlangga mendorong peluang kerja sama bidang semikonduktor. Serta pengembangan investasi perusahaan Belanda di Indonesia, seperti Unilever pada sektor oleochemical di KEK Sei Mangkei, Philips pada sektor kesehatan, dan Frisian Flag pembangunan pabrik Susu di Cikarang. Di tingkat global, Menko Airlangga menyampaikan harapan kehadiran PM Belanda di KTT G20 di Bali, pada 15-16 November 2022 mendatang.

Baca Juga :  Airlangga Sebut Tantangan Besar Majukan Perekonomian Indonesia

 

Dalam diskusi, PM Rutte menyampaikan agar proses investasi untuk ekspansi usaha perusahaan-perusahaan Belanda akan semakin mudah dengan adanya reformasi struktural dapat meringkas waktu proses perizinan di Indonesia.

 

Belanda membuka diri apabila Indonesia memberikan kesempatan berinvestasi di dunia pendidikan. Baik pendidikan tinggi maupun pelatihan vokasi, termasuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswa Indonesia ingin belajar ke Belanda melalui beasiswa Nuffic-Neso. Serta, Belanda menyediakan sistem pembelajaran daring menggunakan teknologi terkini. (dep7/rep/fsr)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dua Laga Berakhir di Titik Putih

Tim Kota Lamongan Saling Sikut

Berharap Dihelat Setiap Tahun

16 Besar Digelar tanpa Penonton


/