29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Menjaga Keselamatan Sesama di Jalur Pipa Minyak Banyu Urip

- Advertisement -

Menjadi pahlawan tidak harus selalu berlaga di medan peperangan. Banyak hal bisa dilakukan, termasuk menjaga keselamatan lingkungan dan sesama.

 

HAL itu dituturkan Abdul Jalil, warga Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Jalil tinggal di desa memiliki banyak hamparan sawah. Mayoritas penduduknya bertani. Sebanyak 204 petani tergabung dalam Kelompok Tani Barokah.

 

Sudah 15 tahun Jalil bergabung di organisasi itu. Ketokohannya membuat lelaki 56 tahun tersebut dipercaya sebagai ketua sejak lima tahun silam. Totalitasnya mengabdi pada masyarakat, membuatnya juga diberi amanah sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sumbertlaseh.

- Advertisement -

 

Jalil meyakini, pengabdian kepada masyarakat adalah bentuk amal saleh. Ia terus mengajak masyarakat melakukan kebaikan. Ajakan itu selalu disisipkan saat menjadi khatib Salat Jumat di kampungnya.

 

Desa Sumbertlaseh termasuk area dilalui jalur pipa minyak Lapangan Banyu Urip. Jalur pipa itu rata-rata selebar 12 meter. Sebagian di antaranya dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam dengan tanaman musiman. Ada pula yang menjadi galengan.

 

Jalil melihat pipa ini sebagai aset negara harus dijaga bersama. Selain menjaga kelangsungan produksi minyak nasional, juga menjaga keselamatan warga di sekitarnya. Untuk itu, dia selalu mengingatkan para petani di sana. Bahkan, dia sering menemani petugas keamanan berpatroli sepanjang jalur pipa.

 

“Saya ingin semua tetangga aman. Tak ada yang berbuat gegabah,” imbuhnya.

Baca Juga :  10 Ribu Jargas Menyasar Gayam, Kota, dan Ngasem

 

Menurut Jalil, gangguan pada pipa bisa terjadi karena ketidaktahuan atau ketidakpedulian. Misalnya, sembarangan mencangkul di atas pipa, menanam pohon akar tunggak, membakar sampah di atas pipa, dan lain-lain. “Alhamdulillah warga di sini paham semua,” ungkap Jalil.

 

Senada dengan Jalil, Muslihin warga Desa Sumurcinde, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, meyakini bahwa jalur pipa sudah didesain aman. Namun, kata dia, jika ada masyarakat tidak paham, dan melakukan aktivitas membahayakan, seperti penggalian tanah, kegiatan tersebut dapat merusak pipa dan berpotensi menimbulkan bahaya.

 

Muslihin tidak sendirian. Ia sering berdiskusi dalam forum “Rembug Tani”. Saling berbagi pengalaman dan saling mengingatkan. Diskusi diselingi dengan obrolan seputar persoalan pertanian sebagai mata pencaharian mereka.

 

“Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk saling bertukar pikiran, termasuk soal pipa minyak Banyu Urip. Semua aman, bertani pun tenang,” ujarnya.

 

Pentingnya Menjaga Keselamatan Jalur Pipa

Pipa minyak Lapangan Banyu Urip berdiameter 20 inci dengan total panjang hingga 95 km. Terbentang dari Fasilitas Pemrosesan Pusat (Central Processing Facility) di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, hingga laut lepas di Laut Utara Jawa. Pipa darat sepanjang 72 km, melewati area di 56 desa di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban. Dibangun dengan desain keselamatan tinggi agar aman bagi masyarakat. Pipa dilengkapi sensor serat optik mendeteksi potensi gangguan pipa.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Ekonomi Digital di Indonesia

 

Meski demikian, ada beberapa kegiatan dapat berpotensi merusak pipa tersebut, seperti kegiatan pembakaran, menanaman tanaman keras, kendaraan bermuatan berlebihan, dan sebagainya. Untuk menghindari itu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama masyarakat terus saling mengingatkan. Sebagian warga, termasuk Abdul Jalil dan Muhlisin bahkan melakukannya dengan sukarela.

 

EMCL bersama SKK Migas sejak 2017 bekerja sama dengan masyarakat melaksanakan Program Peningkatan Kesadaran Keselamatan Pipa Minyak Banyu Urip melalui Pendampingan Pertanian. Program ini membentuk sinergi baik antara masyarakat, pemerintah dan EMCL.

 

“Kami mengapresiasi masyarakat telah mendukung pelaksanaan proyek strategis nasional ini,” ucap Kepala SKK Migas Perwakilan Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Nurwahidi.

 

Menurut Nurwahidi, kolaborasi telah memberikan andil besar menjaga kelangsungan ekonomi negara dari sektor migas. Kontribusi masyarakat dalam menjaga pipa, sama berartinya dengan pengabdian para pahlawan untuk negara ini.

 

Sementara itu, External Affairs Manager EMCL, Ichwan Arifin mengungkapkan rasa hormat untuk para relawan jalur pipa. Dia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah saling memahami dan saling menjaga demi keselamatan bersama.

 

“Semoga kolaborasi ini terus berlangsung demi keselamatan dan kemaslahatan kita bersama,” tegasnya. (*)

Menjadi pahlawan tidak harus selalu berlaga di medan peperangan. Banyak hal bisa dilakukan, termasuk menjaga keselamatan lingkungan dan sesama.

 

HAL itu dituturkan Abdul Jalil, warga Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Jalil tinggal di desa memiliki banyak hamparan sawah. Mayoritas penduduknya bertani. Sebanyak 204 petani tergabung dalam Kelompok Tani Barokah.

 

Sudah 15 tahun Jalil bergabung di organisasi itu. Ketokohannya membuat lelaki 56 tahun tersebut dipercaya sebagai ketua sejak lima tahun silam. Totalitasnya mengabdi pada masyarakat, membuatnya juga diberi amanah sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sumbertlaseh.

- Advertisement -

 

Jalil meyakini, pengabdian kepada masyarakat adalah bentuk amal saleh. Ia terus mengajak masyarakat melakukan kebaikan. Ajakan itu selalu disisipkan saat menjadi khatib Salat Jumat di kampungnya.

 

Desa Sumbertlaseh termasuk area dilalui jalur pipa minyak Lapangan Banyu Urip. Jalur pipa itu rata-rata selebar 12 meter. Sebagian di antaranya dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam dengan tanaman musiman. Ada pula yang menjadi galengan.

 

Jalil melihat pipa ini sebagai aset negara harus dijaga bersama. Selain menjaga kelangsungan produksi minyak nasional, juga menjaga keselamatan warga di sekitarnya. Untuk itu, dia selalu mengingatkan para petani di sana. Bahkan, dia sering menemani petugas keamanan berpatroli sepanjang jalur pipa.

 

“Saya ingin semua tetangga aman. Tak ada yang berbuat gegabah,” imbuhnya.

Baca Juga :  Employee Self Service: Pengertian, Fungsi, dan Manfaatnya

 

Menurut Jalil, gangguan pada pipa bisa terjadi karena ketidaktahuan atau ketidakpedulian. Misalnya, sembarangan mencangkul di atas pipa, menanam pohon akar tunggak, membakar sampah di atas pipa, dan lain-lain. “Alhamdulillah warga di sini paham semua,” ungkap Jalil.

 

Senada dengan Jalil, Muslihin warga Desa Sumurcinde, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, meyakini bahwa jalur pipa sudah didesain aman. Namun, kata dia, jika ada masyarakat tidak paham, dan melakukan aktivitas membahayakan, seperti penggalian tanah, kegiatan tersebut dapat merusak pipa dan berpotensi menimbulkan bahaya.

 

Muslihin tidak sendirian. Ia sering berdiskusi dalam forum “Rembug Tani”. Saling berbagi pengalaman dan saling mengingatkan. Diskusi diselingi dengan obrolan seputar persoalan pertanian sebagai mata pencaharian mereka.

 

“Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk saling bertukar pikiran, termasuk soal pipa minyak Banyu Urip. Semua aman, bertani pun tenang,” ujarnya.

 

Pentingnya Menjaga Keselamatan Jalur Pipa

Pipa minyak Lapangan Banyu Urip berdiameter 20 inci dengan total panjang hingga 95 km. Terbentang dari Fasilitas Pemrosesan Pusat (Central Processing Facility) di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, hingga laut lepas di Laut Utara Jawa. Pipa darat sepanjang 72 km, melewati area di 56 desa di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban. Dibangun dengan desain keselamatan tinggi agar aman bagi masyarakat. Pipa dilengkapi sensor serat optik mendeteksi potensi gangguan pipa.

Baca Juga :  Pangdam V Brawijaya: Imbau Jaga Keharmonisan Rumah Tangga saat ke Bojonegoro

 

Meski demikian, ada beberapa kegiatan dapat berpotensi merusak pipa tersebut, seperti kegiatan pembakaran, menanaman tanaman keras, kendaraan bermuatan berlebihan, dan sebagainya. Untuk menghindari itu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama masyarakat terus saling mengingatkan. Sebagian warga, termasuk Abdul Jalil dan Muhlisin bahkan melakukannya dengan sukarela.

 

EMCL bersama SKK Migas sejak 2017 bekerja sama dengan masyarakat melaksanakan Program Peningkatan Kesadaran Keselamatan Pipa Minyak Banyu Urip melalui Pendampingan Pertanian. Program ini membentuk sinergi baik antara masyarakat, pemerintah dan EMCL.

 

“Kami mengapresiasi masyarakat telah mendukung pelaksanaan proyek strategis nasional ini,” ucap Kepala SKK Migas Perwakilan Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Nurwahidi.

 

Menurut Nurwahidi, kolaborasi telah memberikan andil besar menjaga kelangsungan ekonomi negara dari sektor migas. Kontribusi masyarakat dalam menjaga pipa, sama berartinya dengan pengabdian para pahlawan untuk negara ini.

 

Sementara itu, External Affairs Manager EMCL, Ichwan Arifin mengungkapkan rasa hormat untuk para relawan jalur pipa. Dia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah saling memahami dan saling menjaga demi keselamatan bersama.

 

“Semoga kolaborasi ini terus berlangsung demi keselamatan dan kemaslahatan kita bersama,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Latihan Perdana Persela Fokus Tes Fisik

Asyik Mancing, Terpeleset, Tenggelam

Harus Selalu Bersatu

Artikel Terbaru

Raperda Pesantren di Meja DPRD

APBD 2023 Ditetapkan Rp 2,2 Triliun

Pamerkan Busana dari Batik Blora

Dijanjikan Penerbangan Tahun Depan


/