Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Seluruh SD Terima Penghapusan Calistung

14 Mei 2019, 10: 45: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

DIHAPUSKANNYA kewajiban menguasai baca tulis dan hitung (calistung) kepada calon siswa yang mendaftar sekolah dasar (SD) dipastikan tanpa protes dari lembaga pendidikan maupun orang tua siswa. Sejak disosialisasikan dua pekan terakhir oleh dinas pendidikan (disdik) setempat, seluruh sekolah menerima dengan lapang dada. Begitu juga sejumlah sekolah unggulan yang selama ini membuka jalur tes dalam seleksi anak didik baru.

Kepala Disdik Tuban Nur Khamid mengatakan, seharusnya penghapusan kewajiban calistung sudah diterapkan sejak lama. Namun, karena belum ada payung hukum yang kuat, akhirnya sejumlah sekolah dibiarkan membuka jalur tes untuk menyaring siswa baru dengan materi penguasaan calistung sejak dini. ‘’Semua sekolah terima dengan penghapusan kewajiban calistung, termasuk yang unggulan. Semua tidak masalah,’’ tutur dia kemarin (13/5).

Mantan kepala SMAN 1 Soko ini menegaskan, seluruh PPDB pada tahun ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB jalur TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Dengan misi pemerataan pendidikan tersebut, seluruh jenjang dipastikan tidak membuka jalur tes. Kecuali sekolah yang dianjurkan mengacu peraturan gubernur. ‘’PPDB SD insya Allah tidak ada masalah. Berbeda dengan SMP yang harus hati-hati,’’ kata Nur Khamid.

Pendidik yang juga pelatih gulat ini mengatakan, sistem zonasi diterapkan sejak jenjang paling dasar. Dengan pemerataan pendidikan sejak jenjang paling dasar, dia berharap pendidikan Tuban sudah kukuh sejak dari akarnya. Sehingga, diharapkan seluruh pendidik mempunyai komitmen untuk berlomba-lomba mencetak anak didik yang unggul. ‘’Guru harus berkomitmen mencetak siswa yang belum pandai menjadi lebih pandai,’’ imbuh dia.

Nur Khamid lebih lanjut mengatakan, jika anak sudah memiliki keistimewaan khusus bisa membaca, menulis, dan berhitung sejak balita, itu menjadi bonus tersendiri bagi pendidik. Tugas pendidik adalah membimbing dan mengarahkan ke hal positif. Bukan memaksa dengan cara yang tidak diinginkan anak.

Jika masih ada sekolah negeri yang membuka jalur tes, sesuai Permendikbud, mereka harus siap menerima sanksi. Mulai pengurangan dan pencabutan dana bantuan operasional sekolah (BOS) hingga sanksi perseorangan berupa teguran lisan, tertulis, dan pemberhentian sementara.

(bj/yud/ds/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia