Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Komunitas Ibu-Ibu Merawat Anak Penderita CP

Saling Memotivasi agar Kuat Menghadapi Takdir Tuhan

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

09 April 2019, 11: 45: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SOLID: Komunitas Keluarga CP Bojonegoro rutin kumpul bersama satu bulan sekali. Saling berbagai informasi dan motivasi.

SOLID: Komunitas Keluarga CP Bojonegoro rutin kumpul bersama satu bulan sekali. Saling berbagai informasi dan motivasi. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BERAWAL dari sering terapi di wilayah Baureno, para ibu-ibu dianugerahi anak dengan cerebral palsy (CP) bergegas membentuk komunitas. Mereka membentuk Keluarga CP Bojonegoro saling beri motivasi.

Nasib seseorang tidak bisa ditebak. Melihat ibu yang memiliki anak dengan mengidap penyakit cerebral palsy (CP) cukup terenyuh. Tetapi, ternyata mereka lebih kuat menghadapi takdir yang diberikan oleh sang pencipta.

Apalagi pertengahan Maret lalu, telah terbentuk komunitas bernama Keluarga CP Bojonegoro. Mereka saling berbagi informasi. Juga saling memotivasi satu sama lain.

Perlu diketahui, CP merupakan penderita mengalami kelainan perkembangan dan kerusakan pada otak yang sedang berkembang. Kerusakan otak biasanya terjadi sebelum kelahiran. Tapi bisa juga terjadi saat kelahiran atau tahun-tahun pertama kehidupan si kecil. CP juga bisa disebut lumpuh otak merupakan kelainan yang memengaruhi otot, saraf, gerakan, dan kemampuan motorik seseorang untuk bergerak secara terkoordinasi dan terarah.

Dian Nurfika, salah satu penggagas Keluarga CP Bojonegoro menerangkan, bahwa komunitas tersebut terbentuk begitu saja. Karena, ketika anak pertamanya masih berusia 3 tahun mengidap CP kerap berobat di wilayah Jalan Gajahbolong, Kecamatan Baurneo.

Di sana menjalani pengobatan terapi secara berkala. Ketika menjalani terapi, ia kerap bertemu dengan pasien CP lainnya. “Saat berobat di Baureno sering bertemu dengan para orang tua memiliki anak dengan CP seperti anak saya. Akhirnya sering bertemu, kami pun merencanakan bentuk komunitas,” ujar ibu dua anak asal Desa Kenep, Kecamatan Balen itu.

Selain itu, Dian sempat berkomunikasi dengan tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) Kecamatan Balen karena merasa para pengidap CP juga butuh perhatian pemerintah. Dian pun didorong segera membentuk komunitasnya. Agar nantinya diharapkan semakin banyak orang mau bergabung dan mengetahui bahwa CP di Bojonegoro juga perlu perhatian.

“Karena didorong segera bentuk komunitas, kami pun sepakat untuk bentuk Keluarga CP,” katanya.

Ia mengatakan, hingga kini baru 10 anggotanya karena tidak semua orang tua mau bergabung dalam komunitas ini. Sebab, masih ada beberapa orang tua malu dengan keadaan anaknya. Ada juga orang tua tidak punya waktu untuk kumpul bersama.

Tetapi, Dian bersama Keluarga CP Bojonegoro terus mengajak siapapun orang tua memiliki anak dengan CP. “Kami ajak semuanya, tapi ada yang mau. Ada juga yang enggak mau ikut. Mungkin sibuk atau mungkin malu,” tuturnya.

Akhirnya, pertemuan pertama dilaksanakan di rumah Dian, Desa Kenep, Kecamatan Balen, pertengahan Maret. Selanjutnya awal April, dilaksanakan Kopdar Happy di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas. Dian mengatakan, Keluarga CP Bojonegoro diketuai oleh Sri Harini Sulistiyo. Rencananya, tiap bulan akan rutin mengadakan pertemuan berpindah-pindah di setiap rumah anggota komunitas.

“Alhamdulillah saat ini 10 anggota kompak saling memberikan motivasi,” jelasnya.

Terpisah, Mei Atin Naimah TKSK Balen mengungkapkan, bahwa dirinya sejak awal mendorong tetangganya Dian Nurfika membentuk komunitas. Karena hadirnya komunitas sebagai supporting group tentu sangat membantu tiap anggota lebih optimistis membesarkan anaknya mengidap CP.

Saat berkumpul pun para anggota Keluarga CP Bojonegoro saling tukar informasi terkait rekomendasi pengobatan. “Semoga anggotanya makin banyak, karena informasi ada ratusan anak di Bojonegoro yang kena CP. Saya juga mengupayakan agar mereka masuk data penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS),” terangnya.

Mei, panggilan akrabnya, berharap ada uluran tangan dermawan membantu pengobatan para anak CP. Karena di dalamnya ada banyak keluarga kurang. Dia mengatakan, tak harus uang, tapi alat-alat bantu seperti kursi roda, bola kacang, atau alat untuk berdiri juga sangat membantu. Sebab, para anak CP butuh diterapi secara berkala.

“Alat-alat terapi sangat dibutuhkan anggota Keluarga CP Bojonegoro, semoga ada dermawan yang mau membantu,” jelasnya.

(bj/gas/rij/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia