Senin, 20 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Inisiator Bojonegoro Collective Art

Dulu Graffiti Artist, Kini Banting Setir Artwork Artist

Oleh: BHAGAS DANI PURWOKO

03 April 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

KREATIF: Gustomi sedang duduk santai di teras rumahnya, terlihat ada karya-karyanya dipasang berjajar.

KREATIF: Gustomi sedang duduk santai di teras rumahnya, terlihat ada karya-karyanya dipasang berjajar. (BHAGAS DANI PURWOKO/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

DUNIA gambar menggambar sudah menjadi passion Gustomi. Sejak di bangku SMA, ia menggeluti seni grafiti. Tetapi, saat ini merasa nyaman menjadi artwork artist.

Duduk santai di teras rumahnya, seorang pemuda berambut cepak asyik menggoreskan pena di kertas gambar. Pena digunakan tak ada warna selain hitam. Namun, untuk arsiran terlihat ia menggunakan pensil. Pemuda mengenakan kaus merah itu bernama Gustomi.

Pemuda tinggal di Desa Kauman, Kecamatan Kota, itu hobi sekali menggambar. Ia sejak kecil sudah hobi menggambar. Namun, pengaplikasiannya berubah-ubah. Ketika kecil mungkin hanya corat-coret di buku gambar.

Lalu, ketika duduk di bangku SMA, ia memilih menggambar di tembok menggunakan cat semprot. Ia menggeluti sebagai graffiti artist hanya sekadar hobi. “Masa muda merasa jadi graffiti artist itu menantang dan seru,” ucap pemuda kelahiran 1990 itu.

Tomi, sapaan akrabnya, sempat vakum menggambar cukup lama. Sekitar dua tahun. Akhirnya, pada 2018 ia memutuskan untuk aktif menggambar lagi. Karena ia merasa passion­-nya di dunia menggambar. Tetapi ia tak lagi sebagai graffiti artist, namun sebagai artwork artist. Aliran gambar yang ia pilih juga cukup unik, yakni surealis gelap.

“Tema-tama gambar saya kebanyakan surealis gelap atau darkness. Tapi saya ingin di setiap gambar saya membangun suatu atmosfer bisa diinterpretasikan bermacam-macam,” ujarnya.

Karena ingin belajar dan berbagi ilmu seputar menggambar, ia pun menginisiasi membuat komunitas Bojonegoro Collective Art. Tiap pekan sekali, Tomi bersama komunitasnya bertandang di satu kafe ke kafe lainnya menggambar. Menurutnya, komunitas Mari Menggambar makin terseleksi alam. Dulunya mencapai 9 anggota, kini hanya 4-5 orang yang ikut.

“Makin berkurang, tapi tetap rutin bikin acara kumpul mingguan,” katanya.

Tapi, hingga sekarang, dia merasa potensi seni anak-anak muda Bojonegoro sangat apik. Sehingga dirasa penting ke depannya untuk membuat komunitas menggambar tersebut tetap hidup. Beragam aliran gambar-gambar dari komunitasnya. Tetapi kebanyakan bertema horor, punk, dan gore. Sebab, biasanya karya-karyanya itu dibeli oleh para pemilik clothing line atau band.

“Kadang teman-teman itu dapat pesanan untuk desain kaus-kaus bertema horor atau biasanya desain untuk cover album band-band cadas,” terangnya.

Tomi juga ingin dengan adanya komunitas menggambar itu bisa menjalin jaringan luar kota. Karena selama ini, teman-teman dari komunitasnya masih berjejaring secara individu. Tomi juga berencana mengadakan pameran bersama salah satu seniman perempuan asal Kelurahan Banjarejo, yakni Yanizha.

Rencananya 21 April mendatang di salah satu kafe. Ia ingin adakan pameran sekaligus gabung acara komunitas Cah-Cah Kolektif yang juga akan mengadakan gigs musik. Pria juga gitaris band Obat Bius itu memasarkan hasil karyanya secara online.

Disinggung seniman disukai, Tomi mengatakan, tidak terpaku satu seniman saja. Karena ia ingin mengeksplorasi gambarnya secara bebas. Sebab, asupan referensi dan informasi seputar dunia menggambar juga sangat deras. Jadi sulit kalau harus menyukai salah satu seniman saja.

“Karena banyak sekali seniman bagus, semuanya bisa dijadikan referensi,” tegasnya.

Sementara itu, latar belakangnya menjadi artwork artist murni karena hobi. Karena semuanya ia lakukan secara otodidak. “Sampai kapan pun intinya terus belajar menggambar,” pungkasnya.

(bj/gas/rij/aam/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia