Minggu, 21 Apr 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Tak Waspada, Caleg Petahana Bisa Tergeser

18 Maret 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

ilustrasi

ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO - Anggota DPR RI dari Dapil Jatim IX (Bojonegoro-Tuban), yang saat ini duduk di kursi senayan, dipastikan terdaftar lagi sebagai calon legislatif yang akan berebut kursi DPR RI pada 17 April mendatang.

Namun, sebagian petahana tetap merasa waspada terhadap penilaian masyarakat. Sebab, sepak terjang mereka mudah dibaca oleh masyarakat, karena sudah pernah menjabat sebagai anggota DPR RI.

Kaprodi Ilmu Politik Universitas PGRI Ronggolawe Kholid mengatakan, jika tak waspada. Caleg petahana bisa terjungkal.

“Jadi harus waspada. Sekarang sudah kurang sebulan,” kata dia.

Dia menuturkan, para petanaha harus berhasil merebut hati rakyat.

Sementara itu para caleg pun sudah mulai intens untuk terjun ke masyarakat. Termasuk para petahana yang tetap waspada.

“Tetap waspada, karena masyarakat sudah mengenal,” kata salah satu Caleg Partai Gerindra Dapil Jatim IX Wihadi Wiyanto kemarin (17/3).

Politikus yang 2014 lalu berhasil mendapat kepercayaan dari pemilih Bojonegoro dan Tuban itu, sehingga melenggang di kursi senayan. Tetap optimistis akan kembali berhasil merebut kursinya lagi.

Namun, kondisi Pemilu 2019 ini berbeda dengan 2014 lalu. Sebab, saat ini dia mengaku sudah menjadi public figure. Sehingga, mudah dibaca dan dinilai oleh masyarakat, terutama ketika dia mengemban amanah selama 5 tahun.

“Kalau dulu (2014) masih baru, jadi bisa bebas, tapi saat ini kami menekankan pada bukti yang sudah dijalankan,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan salah satu caleg DPR RI dari Partai Golkar, yang statusnya juga caleg petahana. Yaitu S.W Yudha. Politikus yang pernah duduk di komisi VII dan komisi I DPR RI itu terus memantapkan kepada konstituennya.

Setiap pertemuan menjelang pemilu ini, selalu menekankan kinerjanya selama 5 tahun terakhir kepada masyarakat. Karena dia mengklaim telah berbuat banyak  untuk masyarakat Bojonegoro dan Tuban. Meskipun, semuanya dibiayai dari uang negara.

Di antaranya, pembangunan penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya, sumur bor, pembagian kendaraan roda 3.

“Program ini menyebar di setiap kecamatan di dua kabupaten Bojonegoro dan Tuban,” ujarnya.

Sebagai petahana, kata Yudha, dia buktikan bahwa yang incumbent sudah bekerja memperjuangkan aspirasi masyarakat dengan membawa program di Dapil Tuban dan Bojonegoro, apalagi dia sudah pernah menjabat sebagai pimpinan Komisi VII DPR RI dan sekarang sebagai pimpinan Komisi 1 DPR RI.

Saat ini, dia mengaku ada beberapa kendala di lapangan, di antaranya pemahaman masyarakat terhadap pemilu untuk memilih sosok pemimpin sangat terbatas. Perlu kerja ekstra agar melibatkan masyarakat dalam pemilu ini sebagai bagian pendidikan politik warga negara.

“Partisipasi masyarakat itu juga penting, sebagai pembelajaran politik,” ujarnya.

Pesaing Yudha cukup kuat. Yakni, Haeny Relawati. Dia adalah mantan Bupati Tuban. Politisi perempuan ini cukup punya potensi menggeser posisinya.

Sementara itu, Moc. Aly Taufiq salah satu caleg dari PKB yang baru kali pertama bertarung di pemilu, menekankan strategi pendekatan kepada masyarakat. Yaitu dengan silaturahmi kepada pemilih.

Bukan hanya kepada tokoh yang berpengaruh, tapi semua masyarakat yang merasakan telah memilih wakilnya di DPR RI tahun 2014 lalu, tapi pasca pemilu tidak ada komunikasi sama sekali. Sehingga, dia hadir sebagai putra daerah yang ingin mengabdikan dirinya untuk kemajuan tempat tinggalnya, yaitu di Bojonegoro.

“Kami selama ini silaturahmi, karena masyarakat sekarang ini sudah cerdas,” katanya via ponsel.

Di internal PKB tampaknya sudah ada komitmen antarcaleg, dalam mendekati konstituen. Buktinya, di Kabupaten Tuban, Ratna Juwita Sari yang juga asli Tuban, juga fokus silaturahmi kepada warga Tuban.

Dia juga memakai pendekatan putra daerah Tuban, dan cara itu lebih mudah diterima oleh pemilih. Karena, rata-rata pemilih, banyak yang mengeluhkan beberapa wakilnya di DPR RI dari luar kota, setelah duduk di kursi parlemen, lupa kondisi dapil.

“Blusukan ke desa-desa, supaya semakin dekat dengan masyarakat dan kami juga bisa mengedukasi tentang pelaksanaan pemilu, termasuk teknis pencoblosan nanti,” kata politisi perempuan itu.

Dua caleg ini punya potensi untuk menjungkal Lukmanul Khakim anggota DPR RI saat ini. Selain, kedua caleg itu. Ada Farida Hidayati yang terus membayangi kursi di PKB.

Sementara itu, caleg PPP dari Dapil Jatim IX belum bisa dikonfirmasi, ada dua caleg PPP yang berlomba memasang alat peraga kampanye (APK) untuk merebut suara warga Kota Ledre dan Kota Bumi Wali ini. Yaitu, Muhlisin dan Tobahul Aftoni.

Namun, keduanya belum bisa dikonfirmasi, saat dihubungi ponselnya sedang tidak aktif. Pesan singkat yang dikirim wartawan koran ini juga belum dibalas.

(bj/msu/aam/ai/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia