Minggu, 19 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Dampak Banjir, Harga Gabah Anjlok

13 Maret 2019, 10: 50: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SENGSARA: Para petani harus rela dengan kondisi sawahnya terencam banjir. Harga gabah ikut anjlok.

SENGSARA: Para petani harus rela dengan kondisi sawahnya terencam banjir. Harga gabah ikut anjlok. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO — Dampak banjir yang terjadi pekan lalu, sangat dirasakan oleh sejumlah petani di Bojonegoro. Sebab, padi yang dipanen setelah terdampak banjir, harganya turun bebas.

Padi yang dipanen pasca banjir tinggal Rp 3 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya harga gabah kering panen, rata-rata masih di atas Rp 4 ribu per kilogram.

Turunnya harga gabah tersebut, karena kualitas padi yang baru dipanen tidak bisa maksimal. Karena sebelumnya sempat terendam air banjir beberapa hari.

“Yang sebelumnya kebanjiran, harganya tinggal Rp 3 ribu,” kata Rozak salah petani di Desa Sembung, Kecamatan Kapas, kemarin (12/3).

Menurut dia, kualitas gabah yang sebelumnya terendam banjir, isi bulirnya tidak bisa maksimal. Selain itu, bau busuk juga menyengat.

Dia menambahkan, gabah ketika dijemur juga tak sebagus hasil panen yang tidak terdampak banjir.

Karena masih panen, tapi dengan kualitas gabah yang tak maksimal, maka petani tidak dapat mengajukan asuransi pertanian. Sebab, asuransi hanya bisa diproses jika terjadi gagal panen.

“Harga gabah tergantung kualitasnya,” imbuh Yusuf, salah satu pedagang gabah.

Dibanding harga sebelumnya, kata dia, harga gabah saat ini cenderung turun. Karena sudah mulai memasuki panen raya. Gabah yang normal dan kualitas A, harganya tinggal Rp 4.300 per kilogram. Padahal, sebelumnya mencapai Rp 5 ribu per kilogram.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Bojonegoro Agus Hariyana memastikan harga gabah dinilai masih normal. Namun, dibanding harga di kabupaten tetangga seperti Kabupaten Lamongan, harga gabah di Bojonegoro lebih murah. Memang masih mahal di Lamongan, tapi jika dirata-rata, di Bojonegoro masih normal, katanya terpisah.

(bj/msu/aam/cho/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia