Minggu, 21 Apr 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Syazadhiya Fanani sebagai Duta Batik Cilik

Punya Tanggung Jawab Kenalkan Batik Bojonegoro

oleh: M. Nurkhozim

13 Februari 2019, 18: 03: 51 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

SEJAK DINI: Syaza sudah mengenalkan batik Bojonegoro meski masih pelajar SD. Dia tak henti memopulerkan batik khas ini.

SEJAK DINI: Syaza sudah mengenalkan batik Bojonegoro meski masih pelajar SD. Dia tak henti memopulerkan batik khas ini. (M. Nurkhozim/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Sekitar pukul 14.30 Syazadhiya Fanani Aru baru masuk halaman rumahnya di kawasan Perumda Jalan Panglima Polim. Dia usai menjalani les sekolah. Kesehariannya usai pulang sekolah pukul 13.00, siswa kelas 1 SD itu ikut les. 

Meski seharian beraktivitas Syaza sapaannya tidak tampak lelah. Wajahnya ceria dan energik. Di dalam rumahnya sejumlah piala tampak berjejer. Ada tujuh piala. Semua diperolehnya dalam kurun waktu empat bulan terakhir. 

Persisnya sejak November tahun lalu. Semuanya adalah piala lomba peragaan busana atau fashion show. Baik tingkat kabupaten hingga provinsi. ‘’Yang terbaru ini dari Surabaya,’’ ujarnya memperlihatkan piala baru saja disabetnya.

Syaza tidak hanya pandai berlenggak-lenggok di catwalk. Siswi berusia 7 tahun itu adalah Duta Batik Cilik 2018 lalu. Itu diperolehnya setelah dia memenangkan lomba duta batik tahun lalu. ‘’Sejak itu sering mendapatkan undangan lomba. Alhamdulillah selalu memang,’’ ucap dia.

Menjadi duta batik cilik sebuah kebanggan bagi Syaza. Namun, duta batik cilik tidak dibebani tugas berat seperti duta batik remaja. Duta batik remaja mewakili Bojonegoro di sejumlah kontes peragaam busana di daerah lain. ‘’Kalau yang masih kecil tidak,’’ ujar putri pasangan Rudi Raharjo dan Suhartik itu.

Meski begitu, Syaza tetap memiliki tanggung jawab ikut memopulerkan batik Bojonegoro. Terutama saat dia mengikuti lomba peragaan busana. Caranya mudah. Hanya dengan mengenakannya saat hadir di lomba. 

Namun, hal itu kadang sulit dilakukan. Sebab, lomba fashion show temanya tidak selalu batik. Kadang tema baju adat luar negeri. ‘’Jadi, tidak selalu pakai batik,’’ tutur siswi bercita-cita jadi dokter itu.

Awal mula Syaza mengikuti berbagai macam lomba fashion show dari ketidaksengajaan. Saat itu, orang tuanya iseng mengikutkan Syaza lomba fashion tingkat kabupaten. ‘’Ternyaa menang. Meskipun hanya juara harapan,’’ uja Suhartik, ibunda Syaza. 

Dari situ Suhartik mulai mengasah bakat Syaza. Dia mulai didaftarkan sekolah model. Setelah itu, dia rajin mengikuti berbagai lomba. ‘’Meskipun selalu ikut lomba. Sekolah tetap tidak ketinggalan. Kalau ada kegiatan sekolah, kegiatan lainnya ya dibatalkan. Karena sekolah lebih penting,’’ ucap perempuan berkacamata itu.

(bj/zim/rij/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia