Minggu, 21 Apr 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Buat Alat Sendiri, Sudirman Sulap Sampah Jadi Minyak

oleh: M. Mahfudz Muntaha

28 Januari 2019, 09: 29: 24 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

KREATIF: Menyulap sampah menjadi minyak itu sulit. Tapi, akhirnya berhasil.

KREATIF: Menyulap sampah menjadi minyak itu sulit. Tapi, akhirnya berhasil. (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BLORA - Warga Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora, bernama Sudirman, 54, begitu kreatif. Di rumahnya yang berada di kelurahan setempat RT 06/RW 01. Dia memproses sampah. Di rumahnya itu begitu banyak sampah plastik. Tapi bukan berarti rumahnya itu dia buat tempat penampungan akhir sampah. 

Sudirman mengumpulkan sampah itu untuk dia proses menjadi minyak. 

Benar saja, di rumahnya tersebut ada beberapa alat untuk memproses sampah menjadi minyak. Minyak ini nanti digunakan sebagai bahan bakar alternatif sejenis pengganti minyak tanah. 

Saat ditemui oleh wartawan koran ini, Sudirman mengatakan, pembuatan minyak dari sampah itu dimulai sejak tiga bulan lalu. Saat itu dia mulai membuat karena merasa risih dengan banyaknya sampah plastik yang berserakan di sekitar rumahnya. 

Melihat itu kemudian dia mulai berpikir apakah sampah ini bisa diproses. Kemudian dia bersama satu temannya mengetahui cara bagaimana cara memproses sampah menjadi minyak. Untuk memproses sampah ini, hasil minyak bakar tersebut kini dimanfaatkan untuk kebutuhannya sendiri. “Sementara saya gunakan sendiri untuk memasak,” ujarnya.

Mulanya, lanjutnya, ini hanya inovasi coba-coba saja, karena prihatin dengan banyaknya sampah plastik. Kemudian hasil inovasi ini bisa berhasil dan menghasilkan minyak.

Untuk memproses sampah agar bisa menjadi minyak, menurut Sudirman, memerlukan waktu cukup lama dan ada beberapa alat yang dibutuhkan. Pertama, adalah memasukan sampah plastik ke dalam tabung bernama pirolisis atau alat penyubliman.

Uniknya, alat penyubliman ini dia buat sendiri bersama temannya. Adapun itu dia buat dari paralon besar dengan panjang 1,5 meter yang di dalamnya berisi besi berlubang sepanjang 2 meter dan ujungnya diberi tabung. 

Kemudian di dalam tabung itu diberi air dan dibakar. “Air secukupnya yang berfungsi untuk menekan hawa panas pada saat proses penyubliman,” jelasnya. 

Selanjutnya, plastik yang sudah dimasukkan ke dalam tabung pirolisis tersebut dibakar. Proses pembakarannya menggunakan kayu bakar. Tidak sampai satu jam, plastik yang sudah melalui proses penyubliman tersebut nantinya akan keluar berupa cairan minyak. Namun, hasil penyubliman ini masih berupa minyak kotor. 

Agar warna menjadi jernih, minyak tesebut harus kembali diolah melalui proses penyulingan. Proses penyulingan juga dilakukan sendiri dengan cara minyak dimasukkan ke alat penyulingan. “Alat penyulingan ini juga buatan sendiri,” tambahnya

Setelah proses penyulingan selama hampir sejam, minyak siap digunakan. Tapi hasil minyak tersebut masih dia gunakan untuk sendiri. “Hasil ini juga belum diproduksi secara masal,” bebernya. 

Adapun minyak dari hasil pemrosesan sampah ini berjenis metanol. Bahan bakar tersebut lebih wangi jika dibandingkan minyak tanah. 

Sampai saat ini hasil minyak dari sampah dan alat itu masih dia gunakan sendiri. Sudirman mengaku belum memastikan langkah ke depan terkait temuan inovasinya ini. Meski begitu, dia mengaku inovasi barunya tersebut sudah diketahui oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Blora. “DLH Blora sudah tahu, wong juga sudah pernah ke sini,” paparnya. 

Bahkan dirinya mengaku sempat diminta mengolah sampah yang ada di tempat pembuangan akhir (TPA) Blora. Tapi sampai saat ini dia masih belum memberikan keputusan.

(bj/fud/aam/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia