Minggu, 24 Mar 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Sri Aini, Pembuat Tikar Berbahan Sedotan

14 Januari 2019, 16: 47: 24 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

UNIK: Sri Aini saat menunjukkan hasil karyanya berupa tikar dari sedotan. 

UNIK: Sri Aini saat menunjukkan hasil karyanya berupa tikar dari sedotan.  (M. Mahfudz Muntaha/Jawa Pos Radar Blora)

BLORA - Bagi sebagian orang, sedotan dianggap sampah. Namun di tangan Sri Aini, sedotan bisa diubah menjadi barang- barang bernilai ekonomis tinggi. Dia mengubahnya menjadi tikar pengganti pandan yang saat ini jarang ditemui.

Rumah bercat putih berpadu warna merah di Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora, terlihat lenggang. Sri Aini pemilik rumah sedang santai di dalam. Di ruang tamu rumah perempuan 47 tahun ini nampak sedotan berserakan. Selain itu ada banyak bekas bungkus kopi instan. 

Sedotan yang berserakan itu pun ada yang sudah teranyam. Tak cukup itu saja, di samping pintu masuk ruang utama juga terpasang sebuah etalase yang berisikan tas dan semuanya terbuat dengan bungkus bekas.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Blora-Cepu sibuk melihat barang yang nampak unik itu, wanita paro baya mengenakan kerudung putih menghampiri.

Aini sapaannya, mengatakan dirinya sudah lama memanfaatkan barang yang banyak dianggap sampah oleh orang. Sebab, di warung atau rumah makan, barang-barang tersebut tidak lagi digunakan.

Seperti sedotan, banyak yang tidak menggunakan setelah dibuat minum. Tapi setelah dia berpikir. Barang tak berharga itu menjadi barang bernilai ekonomis dengan menjadikannya tikar unik. Kini banyak yang meminati.

Dia menceritakan, ide awal membuat tikar itu saat dirinya memiliki warung kopi. Di warung kopi itulah banyak menumpuk sampah sedotan. Melihat banyaknya sedotan itu, dia berinisiatif mengumpulkan sedotan.

“Terus saya berpikir ini enaknya dibuat apa ya,” ujarnya.

Biasanya, sedotan digunakan untuk mainan anak-anak seperti dibentuk bunga dan rangkaian seperti segitiga. Dia lantas berpikir keras untuk menemukan inovasi. Sebab, bagi dia jika hanya dibuat suvenir tidak akan bagus. Lantas Aini menemukan ide untuk membuat tikar.

“Kalau dulu tikar dari pandan banyak, kalau sekarang kan pandan sudah jarang,” pikirnya.

Saat itu dirinya belum bisa membuat tikar. Berarti dia harus mencari orang yang bisa membuat tikar. Kemudian dia belajar kepada seorang perajin tikar dari daun pandan. Setelah itu, dia belajar cara mengayam. Akhirnya dia merasa bisa bagaimana proses pembuatan tikar. 

“Setelah itu saya aplikasikan dari sedotan,” imbuhnya.

Benar saja, dengan sedotan yang ada. Ainipun merangkai menjadi tikar. Hasilnya sangat bagus dan terlihat unik. Warna sedotan yang bermacam-macam, kemudian dia rangkai menjadi tikar, terlihat bagus. Kemudian dia coba memasarkan dan ternyata banyak peminatnya. Diapun terus membuat dan semakin banyak pembeli. 

“Sekarang kami pasarkan melalui media sosial (medsos),” ungkapnya.

Pembelinya masih sebatas warga Blora sendiri. Selain membuat tikar. Sedotan itu dia buat bentuk lain seperti tatakan piring. Hasil kerajinan tangan Aini bukan itu saja. Sudah banyak. Seperti menyulap bungkus bekas kopi jadi tas, jadi tempat sampah, dan wadah tisu yang semua itu dia buat dengan barang bekas.

Bukan tanpa kesulitan, saat proses pembuatannya harus jelimet merajut satu per satu dan menyambungkan sedotan yang hanya 25 sentimeter (cm) itu disambung sampai sepanjang 50 cm. 

Kemudian baru dirajut. Satu tikar berukuran 1,5x3 meter membutuhkan waktu satu hari. “Kalau sudah ada dua pesanan lebih saya mengajak rekan, kalau buat sendiri tidak kuat,” imbuhnya.  

Rekannya sendiri adalah tetangga sekitar rumahnya. Sehingga saat dia banyak pesanan dia mengajak tetangganya. Yang mana itu bisa menjadi tambahan untuk perajin lain. 

(bj/fud/aam/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia