Jumat, 18 Jan 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Hendrik Susanto, Desainer Grafis asal Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo

oleh: Bhagas Dani Purwoko

28 Desember 2018, 09: 10: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Hendrik Susanto

Hendrik Susanto (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Seorang anak buruh serabutan asal Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, Hendrik Susanto, kini sibuk menggeluti sebagai desainer grafis. Ia belajar secara otodidak. Kerap jadi juara kontes desain skala internasional sebulan sekali.

Siapa yang menyangka, pria asal Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo itu, kini menjadi seorang desainer grafis internasional. Hendrik Susanto rutin tiap bulan jadi juara kontes desain skala internasional dengan hadiah ratusan dolar. 

Padahal sejak lulus dari bangku SMK, pria akrab disapa Hendrik itu pernah menjadi kuli dan kasir minimarket. Tetapi, semangat belajarnya jangan diragukan, sehingga Hendrik  pun menemukan passion-nya.

Hendrik mengawali karir sebagai desainer grafis baru setahun. Dia sebenarnya berencana ingin menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Ternyata dibatalkan. Akhirnya, ia mengenal desain jenis smudge painting. Modalnya hanya smartphone dan klien pertamanya ialah teman sendiri. 

“Awalnya desain lewat smartphone, membuat foto wajah jadi smudge painting,” tuturnya. 

Dia perlahan tiap pekannya menerima pesanan dari teman-temannya. Hanya, labanya sedikit karena terpotong biaya cetak foto dan figura. Merasa hasilnya kurang menjanjikan, Hendrik memilih ikut proyek pembangunan rumah di Surabaya selama satu bulan. 

Selama kerja proyek, dia masih menerima garapan smudge painting. Di proyek tersebut ia menjadi kuli. Bagi pria kelahiran 1994 itu, tak ada rasa gengsi dengan pekerjaannya, selama itu halal. “Sebelum saya menggeluti smudge painting, saya kerja jadi kasir minimarket,” jelasnya.

Setelah bekerja selama satu bulan sebagai kuli, gajinya ia belikan netbook bekas. Saat itulah, ia mulai mendalami perangkat lunak Adobe Photoshop. “Untungnya saya mengenal Photoshop ketika SMK,” ujar alumni SMK Al Ikhlas Gresik jurusan teknik komputer jaringan itu. 

Tak disangka-sangka rezeki kembali menghampiri Hendrik. Dia berkesempatan mengirimkan karya smudge painting berupa foto Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI Pratikno. 

Ternyata, Pratikno kebetulan lahir di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, itu senang melihat hasil karyanya. Pratikno pun memberi hadiah berupa notebook guna memacu semangat Hendrik untuk berkarya. “Alhamdulillah diberi notebook oleh Pak Pratikno pertengahan tahun lalu,” ucapnya. 

Dia tak menyia-nyiakan pemberian dari Pratikno, Hendrik belajar Adobe Illustrator agar bisa ikut kontes desain. Bermodal belajar dari YouTube, Hendrik mulai lihai mendesain menggunakan Adobe Illustrator. 

Setelah itu, dia sering ikut desain di situs 99designs. Situs kontes skala internasional itu pun kini menjadi ladang pencahariannya. Dia secara full time mencari proyek desain di situ. 

Setidaknya, tiap bulan memenangkan satu kontes dengan hadiah sekitar USD 300. “Penghasilan bulanan saya dari hasil kontes, ya sekitar USD 300,” tegasnya. Di luar kontes, Hendrik pernah menerima proyek dari klien perusahaan. 

Hendrik lihai memanajemen waktunya untuk mengikuti kontes-kontes desain. Dia mengasah keahliannya dan berusaha memuaskan semua kliennya. Suka duka ikut kontes skala internasional ialah banyak klien asal luar negeri yang mana zona waktunya jauh berbeda. 

Perjuangan menjadi desainer grafis itu tidak mudah. Hasil karya ditolak klien itu sudah biasa. Hendrik pun selalu mencari banyak referensi di Pinterest atau Behance. Dia juga ingin memotivasi para desainer grafis kurang  makmur. Karena di Indonesia, desainer grafis kerap dianggap remeh. “Padahal urusan desain kalau di luar negeri sangat dihargai, berbeda kalau di sini, per desain hanya dihargai Rp 30 ribu,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Ngasdi dan Rasiyem itu.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia