Jumat, 18 Jan 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Manfaatkan Limbah, Wahyuni Menyulap Botol Minuman Menjadi Boneka

oleh: Chahya Sylvianita

20 Desember 2018, 13: 07: 09 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

DAUR ULANG: Boneka buatan Wahyuni terlihat berkarakter. Dia memanfaatkan limbah menjadi karya. 

DAUR ULANG: Boneka buatan Wahyuni terlihat berkarakter. Dia memanfaatkan limbah menjadi karya.  (Chahya Sylvianita/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Siapa sangka, botol minuman biasanya dibuang, kini dimanfaatkan menjadi boneka berkarakter. Wahyuni bisa menyulapnya menjadi boneka berkarakter. Bahkan, memiliki nilai ekonomis. Semakin beranjak umur tidak melunturkan semangat perempuan 56 tahun ini berkarya. Perempuan kerap dipanggil Wahyuni, mampu mengubah limbah botol bekas menjadi sebuah karya memiliki nilai ekonomis. Di tangannya, botol bekas tersebut disulap menjadi boneka mungil dan berkarakter. 

Ternyata, botol bekas ukuran kecil itu menjadi cetakan badan boneka agar bisa berdiri. Lalu dikombinasikan dengan berbagai jenis kain flanel dan kain perca. Wahyuni menjahit potongan-potongan kain menjadi berbagai macam boneka. Ada boneka wisuda. Juga, boneka memakai pakaian batik. Bahkan, boneka berjilbab. 

Sambil menjahit bagian tangan boneka, Wahyuni duduk menggelar tikar di kediamannya di Gang Depo, Kelurahan Sumbang, Kecamatan Kota. “Ini lagi mau coba bikin boneka jenis boneka menari. Jadi pakai baju-baju adat,” ujarnya. 

Hanya, Wahyuni mengakui boneka memakai pakaian adat memiliki kendala karena pembuatannya lebih rumit. Ada manik-manik dan harus ditempel satu per satu. “Tangan dan kaki berbeda dari boneka biasanya. Lebih ada gambaran seperti menari. Itu lebih susah,” ucap dia.

Sambil mengajari wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro menjahit bagian mulut boneka menggunakan benang merah, Wahyuni bercerita mengenai hobinya mengolah barang bekas. “Sudah hobi dari dulu membuat kerajinan dari bahan-bahan tidak terpakai,” ujarnya. 

Selain membuat boneka limbah botol, dirinya mengaku pernah membuat selimut dari kain perca. Sesekali, Wahyuni meminta tolong memasukkan benang ke jarum. “Maklum sudah tua,” ucapnya dengan ramah. 

Wahyuni menjelaskan, produksi sehari tidak bisa dipastikan karena pembuatan boneka di sela mengurus keponakan. Untuk penjualan, Wahyuni biasanya menitipkan keponakannya masih duduk di bangku SD. “Teman-temannya yang beli, kemarin saya bawakan sekitar 10 boneka sudah habis semua,” ucapnya dengan tersenyum.

Wahyuni mengaku tidak tahu pasti berapa modal harus dikeluarkan saat membuat boneka. Alasannya, karena bahan sebagian besar merupakan limbah. “Jadi, soal harga saya tidak bisa memastikan karena ini kan berupa kreativitas saja,” ujarnya.

(bj/*/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia