Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Santri Langitan Gugat PT Semen Indonesia

Kamis, 06 Dec 2018 12:49 | editor : Ebiet A. Mubarok

MENCARI KEADILAN: Gus Maksum (tengah berkopiah) yang  mendampingi santrinya yang mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri Tuban kemarin (12/5). Dia diwawancarai wartawan terkait upaya hukum yang ditempuh.

MENCARI KEADILAN: Gus Maksum (tengah berkopiah) yang  mendampingi santrinya yang mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri Tuban kemarin (12/5). Dia diwawancarai wartawan terkait upaya hukum yang ditempuh. (Yudha Satria Aditama/Jawa Pos Radar Tuban)

TUBAN – PT. Semen Indonesia (SI) kembali bersengketa terkait lahan dengan warga. Kali ini yang dihadapi alumni santri Ponpes Langitan. Kemarin (5/12), gugatan perdata sengketa lahan tersebut didaftarkan ke Pengadilan Negeri (PN) Tuban. 

Begitu urgennya perkara tersebut, Gus Maksum, putra ragil almarhum KH Abdullah Faqih turun langsung ke pengadilan. Dia didampingi tim kuasa hukum penggugat dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Al Hikmah. Lahan yang disengketakan berada di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek  seluas 8.390 meter persegi milik almarhum Haji Umar. Dia adalah orang tua Maghfur, alumni santri Ponpes Langitan. 

Dalam materi gugatan, Maghfur mengaku merasa dirugikan karena PT. SI sudah menggunakan lahan warisan orang tuanya sebagai gudang selama 24 tahun tanpa seizin keluarganya selaku pemilik sah lahan tersebut. 

Selaku ahli waris, dia sudah mencoba klarifikasi terkait status kepemilikan lahan itu kepada badan usaha milik negara (BUMN) tersebut. Atas klarifikasi tersebut, PT. SI mengeluarkan surat  No.008714/HK/SUP/50045217/2000/09.21. Isinya, perusahaan semen ini menyatakan membeli lahan tersebut sejak 1991.

Berdasarkan berita acara pembebasan tanah oleh panitia pembebasan tanah Tuban kepada keluarga almarhum Maghfur, penjualan tanah tersebut dikuasakan kepada almarhum Sadari, salah satu perangkat Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek saat itu. Begitu juga penerimaan dana pembeliannya. ‘’Kami tidak pernah merasa menjual,’’ tegas dia.

Maghfur lebih lanjut mengatakan, tanah yang kini diakui milik PT. SI itu dulunya adalah lahan palawija. Berdasar dokumen yang dimiliki, lahan tersebut bersertifikat nomor 50 gambar situasi nomor 1436 tahun 1987. Luasnya 8.390 meter persegi. 

Sewaktu ayahnya masih hidup, lanjut dia, sertifikat tanah tersebut diagunkan ke BRI bersama belasan sertifikat tanah lainnya untuk peminjaman modal usaha. Pada 2007, pinjaman lunas dan agunan sertifikat dikembalikan ke ahli waris. Setelah sertifikat diterima, Maghfur mengecek ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tuban terkait status kepemilikan tanah. ‘’Saat itu BPN menyatakan sah tanah tersebut milik Umar dan belum dipindahtangankan kepada siapa pun,’’ ungkap dia.

Dari situ Maghfur mulai merasakan kejanggalan. BPN menyatakan tanah tersebut secara sah masih atas nama Umar, ayahnya. Namun di sisi lain, tanah tersebut sudah berdiri bangunan milik PT. SI. ‘’Kami mencari keadilan agar hak keluarga kami dikembalikan,’’ harap dia.

Gus Maksum Faqih yang dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban mengatakan, dia mendampingi pelapor yang merupakan santri Ponpes Langitan pada 1989 – 1999. Umar, ayah Magfur dulunya juga santri ponpes yang menjadi salah satu kiblat politik nasional tersebut. Selaku guru, dia berkomitmen mendampingi Maghfur untuk menuntut keadilan. ‘’Kalau barang bukti dan semuanya sudah lengkap, seharusnya ada keadilan. Saya akan mendampingi Maghfur dalam mencari keadilan hingga tuntas,’’ tutur putra almarhum KH Abdullah Faqih itu.

Kepala Biro Hubungan Media PT SI Sigit Wahono dikonfirmasi tadi mengatakan, dalam setiap proses pengadaan lahan, PT. SI telah mentaati segala peraturan dan ketentuan yang berlaku. Terkait dengan gugatan tersebut, menurut Sigit, PT. SI menghormati seluruh proses hukum.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia