Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Banjir Rendam Kota dan Bancar 

Kamis, 06 Dec 2018 12:09 | editor : Ebiet A. Mubarok

JADI COKLAT SUSU: Air laut di sepanjang pantai Tuban yang berubah keruh karena gelontoran air bercampur lumpur dari muara. Insert, salah satu titik dinding penahan jalan yang ambruk setelah tersapu banjir.

JADI COKLAT SUSU: Air laut di sepanjang pantai Tuban yang berubah keruh karena gelontoran air bercampur lumpur dari muara. Insert, salah satu titik dinding penahan jalan yang ambruk setelah tersapu banjir. (Yudha Satria Aditama/Jawa Pos Radar Tuban)

TUBAN – Hujan lebat yang mengguyur hampir seluruh wilayah Tuban pada Selasa (4/11) malam mengakibatkan sejumlah kawasan terendam banjir. Di kawasan kota, bah bercampur lumpur menggenangi pemukiman di Kelurahan Kingking, Kelurahan Karangsari, dan Kelurahan Sendangharjo selama kurang lebih tiga jam. 

Sementara di luar kota, banjir merendam puluhan rumah warga pada lima desa di Kecamatan Bancar. Kelima desa tersebut, Boncong, Sukolilo, Bulumeduro, Bulujowo, dan Tenggerkulon. Air limpahan dari dataran tinggi di Desa Kayen kecamatan setempat itu dilaporkan pemerintah kecamatan  menggenangi lebih dari 30 rumah selama kurang lebih 6 jam.

Menurut pantauan Jawa Pos Radar Tuban, banjir di kawasan kota terjadi berselang sekitar satu jam setelah hujan deras turun sekitar pukul 19.00. Terparah di Jalan Diponegoro. Air yang menggenangi jalan protokol ini menutup trotoar. Jalan ini pun berubah menjadi aliran sungai. Tinggi air yang mencapai 30 hingga 40 sentimeter (cm) itu juga masuk sejumlah rumah. ''Banjirnya masuk ruang tamu,'' kata Fety Subhan, salah satu warga setempat sambil menunjukkan bekas lantainya yang terendam.

Bah yang datang  sekitar pukul 21.00 tersebut baru surut sekitar pukul 03.00. Begitu surut, banjir meninggalkan sampah plastik, lumpur, dan kerikil di sepanjang kawasan yang terendam.

Jalan Diponegoro menjadi langganan banjir setiap hujan deras. Itu karena permukaan jalan ini lebih rendah dibanding jalan protokol di wilayah selatan, seperti Jalan Basuki Rachmad, Jalan Sunan Kalijaga, Jalan Pramuka, dan Jalan dr Soetomo. ''Jadi air seperti dialirkan melalui jalan ini (Jalan Diponegoro),'' ujar Eko, warga Kelurahan Kingking.

Sementara itu, Camat Bancar Danarji yang dikonfirmasi terpisah mengaku melaporkan 30 rumah yang tergenang. Rinciannya, di Tenggerkulon (1 rumah, Boncong (6 rumah), Sukolilo (3 rumah), dan Bulumeduro (20 rumah). Sementara belasan rumah yang terendam di Bulujowo belum terdata satu pun. Ketinggian genangan sekitar 30-50 cm. ‘’Yang kami data yang airnya sampai masuk rumah,’’ tutur Danarji.

Diterangkan mantan sekcam Bancar ini, bah berasal dari Kayen yang permukaan tanahnya lebih tinggi. Air hujan yang mengguyur deras di kawasan desa ini seperti ditumpahkan karena kawasan hutan jati di Kayen gundul. ‘’Ini diperparah dengan kondisi drainase yang buntu karena sampah,’’ kata dia. 

Banjir merupakan problem krusial yang dihadapi seumlah desa di Kecamatan Bancar. Ketika hujan deras mengguyur, desa-desa yang berada di dataran rendah langsung tergenang. Lama rendaman sekitar lima jam. 

Terkait problem tersebut, dia mengimbau desa-desa di kawasan tersebut untuk memperbaiki drainase,’’ ujar Danarji.

Selain menggenangi rumah, terjangan banjir juga merusak enam titik tembok penahan jalan. Tiga titik penahan jalan di antaranya berada di Desa Sembungin dan Tenggerkulon, keduanya di Kecamatan Bancar. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Joko Ludiyono menjelaskan, berdasar peta bencana BPBD, di Kecamatan Bancar terdapat lima desa yang berpotensi banjir. Selain berada di dataran rendah, desa tersebut juga menjadi jalan untuk aliran air ke laut. ‘’Kalau hujan deras dan debit air tinggi, pasti banjir bandang,’’ jelas dia.

Joko menegaskan, permasalahan banjir bandang di Tuban mayoritas disebabkan karena drainase tidak berfungsi maksimal, sehingga tak mampu menampung air ketika hujan deras mengguyur. 

Permasalahan yang sama, lanjut dia, juga terjadi di sejumlah wilayah kelurahan di Kecamatan Tuban. Antara lain, Sendangharjo, Kutorejo, Kingking, Baturetno, dan Latsari. Pemicu banjir lainnya, terang Joko, karena kiriman air dari Kecamatan Semanding yang memiliki permukaan tanah lebih tinggi. ‘’Air kiriman seperti itu biasanya tidak nandon lama,’’ terang dia.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia