Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Nofi Eka Suryani, Pebisnis Hantaran dan Mahar Pernikahan

oleh: M. Nurkhozim

Rabu, 05 Dec 2018 10:30 | editor : Ebiet A. Mubarok

BERJIWA SENI: Nofi menunjukkan salah satu karya hantaran mahar pernikahan. Karyanya sudah dikirim luar pulau.

BERJIWA SENI: Nofi menunjukkan salah satu karya hantaran mahar pernikahan. Karyanya sudah dikirim luar pulau. (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Rumah Nofi Eka Suryani yang berlokasi di Jalan Kusnandar tidak pernah sepi. Sejumlah karyawan tampak sibuk mengerjakan tugasnya. Membuat pernak-pernik atau membuat hantaran yang dipesan oleh pelanggan. 

Bahkan, pada momen tertentu kesibukan di rumah Nofi sudah tidak bisa dibendung. Untuk istirahat harus mencuri waktu. “Kalau pesanan sedang banyak harus dikebut supaya tepat waktu. Kalau molor pelanggan bisa kabur,” ujar Nofi kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (4/12).

Usaha hantaran dan mahar pernikahan itu dimulai pada 2016 lalu. Jauh sebelum itu, pada 2014 dia sudah memulai bisnis. Namun, masih usaha membuat kerajinan. Mulai dari kain flanel, payet, lukis kain, dan jahit. Kala itu, usaha yang sedang tren adalah itu. 

Namun, pada 2016 dia mulai mendapatkan tawaran untuk membuat hantaran pernikahan dan mahar. Awalnya dia ragu menerimanya. Sebab, dia belum berpengalaman. Namun, dia nekat belajar dari sejumlah teman. Maka, orderan pertama itu sukses. “Dari situ usaha hantaran dan mahar mulai banyak orderan,” jelasnya.

Saat ramai, dalam sebulan dia bisa mengantongi belasan juta. Sebab, pesanan yang datang bisa sampai 20 unit per bulan. Namun, saat sepi langsung anjlok. “Itu wajar karena bisnis hantaran itu bisnis musiman,” terang dia.

Saat ini, usaha hantaran masih mengalami masa yang kurang bagus. Biasanya, usaha hantaran dan mahar akan bagus pada awal tahun atau menjelang Ramadan. Bahkan, menjelang Idul Fitri permintaannya bisa sangat tinggi sekali.

Selama ini pesanan paling banyak dari luar daerah. Sebab, pemasaran paling banyak melalui online. Sehingga, pemesan bisa datang dari berbagai daerah. “Dari luar pulau juga sering,” ujarnya.

Nofi menuturkan, dalam menjalankan usaha harus ulet. Menurutnya itu adalah syarat mutlak. Jika pengusaha mudah menyerah, maka usaha yang digeluti akan mudah gulung tikar. Selain itu, konsistensi juga sangat dibutuhkan. “Jangan sampai pengusaha sering berubah-ubah. Sebentar usaha kerajinan, sebentar kemudian usaha makanan. Jadi, harus konsisten,” tutur dia.

(bj/zim/aam/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia