Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Straight, Band Hardcore Diisi Personel Beragam Aliran Musik

oleh: Bhagas Dani Purwoko

Selasa, 04 Dec 2018 10:55 | editor : Ebiet A. Mubarok

MUSISI BOJONEGORO: Empat personel Straight saat berpose. Dirikan band hardcore dan telah rilis mini album.

MUSISI BOJONEGORO: Empat personel Straight saat berpose. Dirikan band hardcore dan telah rilis mini album. (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Geliat musik cadas di Bojonegoro memang tak pernah padam. Para musisi lokal silih berganti, regenerasi tiap tahunnya. Jumlah band-nya pun cukup banyak, kerap kali satu personel punya lebih dari satu band. 

Mereka saling bantu, berkarya bersama. Budaya kolektif juga terus subur, gelaran gigs juga rutin dihelat. Mereka cerminan para pemuda produktif di bidang seni musik. Meski, segmentasi pasar terbatas, namun pendengar sangat solid. 

Keahlian di dunia rekaman juga terus berkembang, bahkan beberapa sudah mumpuni rekaman secara mandiri. Jawa Pos Radar Bojonegoro mengamati ada satu band beraliran hardcore yang baru lahir Mei lalu. 

Mereka tidak asing, karena semua personelnya merupakan muka-muka lama dari band pernah menghiasi gigs-gigs di Bojonegoro. Band berbahaya tersebut bernama Straight. 

Mereka suguhkan musik hardcore penuh gairah. Dentuman drum rancak dan gaya vokal berat. Beberapa gigs pernah ia ikuti, para penonton sangat bersemangat membakar moshpit. 

Rimba pembetot bas menceritakan, sebenarnya dulu penggebuk drum. Begitupun personel lainnya seperti Fajar juga penggebuk drum, tapi di Straight, dia mengokupasi gitar. Sedangkan, Krisna sebagai drumer dan Upik vokalis. 

“Straight seperti tempat baru untuk berekspresi, karena personel kami juga pernah band sebelumnya, bahkan Fajar juga menggawangi dua band,” ucapnya. 

Dia mengatakan, personel Straight memiliki kesukaan aliran musik berbeda. Rimba dulu gandrung aliran musik hardcore. Fajar tertarik rock progressive, sedangkan Krisna dan Upik suka musik pop punk. 

“Keberagaman itulah yang buat musik Straight semakin kaya dan kuat,” jelas pria asal Kecamatan Ngasem itu. 

Terbentuknya Straight juga begitu cepat. Berawal iseng ngejam bareng, akhirnya jadi Straight. Tak ingin hanya buat proyek iseng belaka. Sejak Mei terbentuk, para personel Straight kini garap empat materi lagu. 

Mereka rembukan bersama masalah lirik dan aransemen lagu. Hingga akhirnya memakan waktu satu bulan untuk proses kreatif, mereka hasilkan mini album berisi empat lagu. 

“Dua bulan kami cari referensi dan samakan visi, lalu proses kreatif satu bulan, akhirnya Agustus jadi mini album isi empat lagu itu,” katanya. Tajuk mini albumnya itu Stronger Than Before. 

Empat lagu itu secara garis besar menceritakan seputar bagaimana cara tidak menyerah dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Lirik-liriknya sengaja ditulis secara lugas tanpa kiasan, agar penikmat bisa mengerti maksud karya itu. 

“Terbukti baru beberapa bulan merilis single berjudul rise up, alhamdulillah para penonton banyak hafal lagu,” tambahnya. 

Straight sering menghiasi gigs di Bojonegoro. Lagunya juga sudah bisa dinikmati di layanan streaming music. “Rilisan fisik juga sudah ada, namun releas party-nya rencana Februari 2019 setelah tur Jawa Timur empat kota Januari 2019,” ujarnya. Empat kota itu terdiri atas Surabaya, Malang, Lamongan, dan Ponorogo.

Straight tetap percaya etika bisa eksis. Mereka rekaman mini album itu mandiri. Kebetulan Fajar memiliki studio rekaman kecil-kecilan. Sehingga, Straight tanpa harus susah payah mencari studio rekaman di luar kota. 

“Kami andalkan kemampuan sendiri dulu,” ucapnya. Rencananya, tahun depan juga bisa rilis album lagi. Mereka sudah siapkan beberapa materi lagu. “Rencananya bertajuk seven deadly sins. Nanti ada tujuh lagu materi album baru,” jelasnya.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia