Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Komunitas Dongeng di Lamongan, Tantangannya Menjaga Konsentrasi Anak

Selasa, 04 Dec 2018 10:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

Komunitas Dongeng di Lamongan

Komunitas Dongeng di Lamongan (Istimewa/Jawa Pos Radar Lamongan)

LAMONGAN - Sejumlah anak duduk lesehan. Mereka asyik menikmati cerita dongeng. Acara di Desa Tambak Ploso, Kecamatan Turi itu digelar warga setempat. Mereka menghadirkan Komunitas Dongeng Lamongan.

Anak – anak itu mendengarkan cerita tentang hewan kelinci yang suka berbohong. Tema hewan diangkat pendongeng itu untuk memudahkan pemahaman anak – anak yang masih duduk di bangku TK dan SD.

‘’Dongeng ini baru sekitar setahun,’’ tutur salah satu anggota Komunitas Dongeng Lamongan, Fitri Areta, kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Dia awalnya resah dengan minimnya anak – anak mendapatkan dongeng. Fitri bersama teman - temannya kemudian belajar mendongeng. Komunitasnya kini kerap jelajah desa untuk mendongeng. ‘’Dongeng itu penting,’’ ujarnya.

Perempuan berkerudung itu menuturkan, jelajah dongeng bertujuan mengembangkan imajinasi dan kreativitas anak melalui dongeng yang bersumber dari berbagai buku. Dalam setiap kegiatan mendongeng, komunitas ini memulai kegiatan dengan bernyanyi bersama. Lagu keceriaan seperti mengenalkan nama-nama jari bertujuan agar anak - anak bisa berkonsentrasi dan merasa betah mengikuti kegiatan.

Ketika mendongeng, anggota komunitas tersebut menggunakan alat peraga boneka tangan. Boneka itu bisa berbentuk menyerupai kelinci, burung hantu, macan, dan berbagai bentuk lainnya sesuai tema yang diangkat. 

‘’Dengan boneka, peserta akan mendengarkan dengan seksama. Tak jarang mereka juga tertawa,’’ ujar perempuaa asal Desa Bakalanpule, Kecamatan Tikung itu.

Selain boneka, terkadang pendongeng memratikkan hewan yang dikisahkan dalam dongeng. Mereka membuat gerakan saat hewan marah, sedih atau lainnya. Jika tidak ada gerakan dalam dongeng, maka anak akan merasa jenuh.

 ‘’Menjaga konsentrasi anak itu cukup sulit, makanya harus bisa mengatasi tantangan itu,’’ tuturnya. 

Selesai mendengarkan dongeng, anak – anak diberi pertanyaan. Mereka yang berani menjawab pertanyaan tentang dongeng yang baru didengarkan dengan benar, mendapatkan hadiah. Pertanyaan yang diajukan itu untuk proses transformasi materi dari pendongeng kepada anak – anak. Jika ada yang isa menjawab, maka materi dongeng sudah tersampaikan.

‘’Dengan hadiah, anak-anak akan langsung berebut mengacungkan tangannya,’’ ujar perempuan kelahiran 3 April 1992 itu.

(bj/msu/yan/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia