Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Ainur Rofiq Bongkar Dapur HTI

Jumat, 30 Nov 2018 19:24 | editor : Amin Fauzie

Ainur Rofiq Mantan HTI di Pendapa Krida Manunggal Tuban

BONGKAR RAHASIA: Dr. Ainur Rofiq (mengenakan blangkon) menjelaskan cara organisasi terlarang HTI dalam merekrut kader. (Yudha Satria Aditama/Jawa Pos Radar Tuban)

TUBAN – Dr. Ainur Rofiq al-Amin, mantan pengikut dan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kemarin (30/11) secara khusus datang ke Tuban.

Dalam acara yang digelar di Pendapa Krida Manunggal Tuban, Rofiq yang mengenakan surjan hitam plus blangkon dan bersarung itu membongkar dapur dan seluruh misi rahasia organisasi yang kini dilarang pemerintah tersebut.

Di hadapan sekitar 600 peserta acara Resonansi Kebangsaan, pria kelahiran Jombang ini mengungkapkan aktivitasnya ketika menjadi pengurus HTI.

Selama menjadi bagian dari organisasi massa ini, dia selalu dituntut untuk memengaruhi siapa pun agar mendukung khilafah. Dalam setiap pengkaderan, aktivis HTI selalu menanyakan pertanyaan yang sama kepada calon kadernya. Pertanyaannya, pilih Pancasila atau syariat Islam.
’’Jika seseorang memilih syariat Islam, berikutnya brainwash yang bekerja,'' ungkap dia.

Awalnya, dua pertanyaan tersebut, kata Rofiq, merupakan kalimat maut untuk menyaring para kader baru.

Pria yang kini jadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang ini menjelaskan, para agen khilafah akan terus mencari kader-kader baru di kalangan remaja. Bahkan, dia secara vulgar menjelaskan HTI sudah bergerak di lembaga-lembaga pendidikan.

‘’Banyak yang menyebarkan gerakan radikalisme ke dalam lembaga-lembaga pendidikan,’’ tegas dia.

Dosen salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya itu mengatakan, salah satu ciri khas pengaderan HTI adalah ingin mengganti sistem negara demokrasi menjadi keinginan mereka, yakni kepemimpinan kilafah.

Dia menggambarkan bahaya khilafah dengan mencontohkan peperangan di Suriah. Perpecahan di negara Timur Tengah tersebut disebabkan ajaran khilafah yang disalahgunakan.

Awalnya, para agen organisasi terlarang itu akan menjaring seorang kader dengan iming-iming sistem yang lebih baik. Padahal, sistem khilafah terbukti sudah ditolak banyak negara Islam karena sangat membahayakan. Hingga akhirnya banyak perpecahan di negeri Timur Tengah yang dimulai dari doktrin yang salah tersebut.

‘’Sekarang setelah dibubarkan, HTI lebih berbahaya karena kegiatan mereka menyerupai orang-orang NU dan menyusup ke mana-mana,’’ tutur dia.

Di akhir kupasannya, Rofiq kembali menegaskan agar jangan mudah percaya dengan orang yang mengaku baru hijrah. Menurut dia, lebih baik berguru kepada kiai atau alim ulama yang jelas asal-usulnya. Terlebih, ajaran khilafah kini banyak disebarkan di internet.

‘’Lebih baik belajar langsung kepada kiai yang punya pondok atau ustad yang jelas ngajinya di mana dan sejak kapan,’’ kata dia.

(bj/ds/yud/min/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia